Kamis, 24 November 2011

AKU, DIA DAN MEREKA (Tribute to Al. Yan Sukanda)




Aku adalah aku,
bukan dia atau mereka
mengapa aku?,
lagi-lagi aku
bukan dia atau mereka,

tetapi cukupkah aku?, tanpa dia dan mereka
setiap langkah aku berpijak,
aku tersadar dan terus belajar,
tanpa dia dan mereka aku bukan apa-apa,
beribu kata, berjuta kenangan dan kebaikan telah aku dapatkan karena Dia dan mereka

Aku terbangun dari kemauan untuk terus belajar dari kekurangan, semua itu karena Dia dan Mereka
Aku tersadar,
Sekarang Dia telah Pergi untuk selamanya,

Aku dan mereka berharap,
semua kebaikan dan karya dapat diteladani dan dapat dilanjutkan,
Semoga Dia beristirahat dengan damai disisi kanan Bapa, terima kasih untuk semua ajaranmu kepada aku dan mereka.

@Pit, Nopember 2011.

Puisi ini di persembahkan untuk mengenang Alm. Al. Yan Sukanda, S.Sn. yg telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, Semoga di terima di sisi kananNya dengan Damai.

Senin, 12 September 2011

Seribu Cerita dari Bunga Serambi Mekkah



Citizen Reporter

Senin, 12 September 2011

Oleh:
Petrus Kanisius Pit
Warga Ketapang


MENYIMAK kisah dari seribu cerita dari Serambi Mekkah, merupakan karya yang kaya akan kisah dan fakta serta fiksi yang kaya akan bahasan unsur budaya aceh, ungkapan heroik nan energik terjadi di Aceh pada saat tsunami, cerita tentang perjuangan perang antara TNI - GAM dikala itu dan dunia pendidikan di Aceh .

Alur cerita yang disuguhkan oleh Maia Rosyida dalam alur cerita novel ini sangat beragam. Cerita ini secara jelas menggambarkan tentang situasi atau keadaan peristiwa dimana masyarakat Aceh dihadapkan pada cobaan berupa tsunami dan cerita pilu tentang situasi pendidikan dan pergolakan perjuangan masyarakat.

Pembahasan dari sisi cerita novel ini memberikan inspirasi bagi kaum muda khususnya tentang cerita khayalan percintaan dan religious dari masyarakat Aceh dalam menghadapi situasi genting membawakan kita untuk terus teringat dan dapat mengetahui dan membayangkan pada cerita bersejarah tentang tsunami dan perjuangan masyarakat pada saat pemberontakan yang banyak menelan korban jiwa.

Tidak hanya itu di novel ini juga dikupas tentang karakter dari Shafiya memberikan suguhan ungkapan cinta, kasih persahabatan dan pesan-pesan moral yang sarat akan human interest terkait situasi Aceh.

Novel ini membawa kita pada sebuah pandangan tentang keadaan peristiwa, religius dan budaya di Aceh yang membawa arti tentang Kehidupan. Novel ini dikupas sangat menarik, lugas tegas dan tersruktur oleh pengarangnya.

Novel Bunga Di Serambi Mekkah ini terdiri dari 12 bab, masing bab 1, Dekapan Perang, cerita tentang Perang TNI vs GAM. Bab 2, Keindahan Pulau Aceh yang terhempas tsunami. Bab 3, Bunga Perawan tentang kesolehan gadis-gadis aceh dalam menjalankan sholat di Musholla menjelang senja.

Bab 4, Serambi Padepokan cerita tentang bagaimana penghayatan terhadap Ayat-ayat Al-Qur'an oleh para santri. Bab 5, percapapan dan kekaguman seorang Shafiya kepada Eross. Bab 6,Perjuangan hidup masyarakat Aceh pada saat Perang dan pemberontakan. Bab 7, Khayalan cinta Shafiya pada Eross.

Bab 8, kisah drama percintaan antara Andy dan Farah berujung konflik dengan Eross. Bab 9, Sikap tidak ikhlas seorang Shafiya terhadap Al-Qur'an terkait sindiraanya terhadap hukum dan segala pelanggaran peraturan.

Bab 10, Shafiya dihadapkan dengan hukuman terkait kisah percintaannya dengan Eross dan Andy. Bab 11, Pengulasan tentang peribahasa, Pantun-Pantun, dan doa-doa dari Aceh. Bab 12, Bercerita tentang Perpisahan Shafiya tanpa penyesalan tentang semua peristiwa.

Novel ini ini terdiri dari : 128 Halaman, Cetakan Pertama, 2011. Penulis : Maia Rosyida. Penerbit : Emboen Imaji, Mijen Semarang. (*/pio)

Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak

Senin, 15 Agustus 2011

Makna Cinta



Bagian (I)

oleh Petrus Kanisius Pit


Hidupku Menjadi nyata dan bermakna karena kesempurnaan Kasih-Mu,

Semangatku bangkit karena Kuasa Motivsi kesabaran-Mu,

Kekuatanku karena Sikap-Mu,

Cemburu sebagai tanda padunya semangat kerinduan kita,

Tawa-Mu sebagai manisnya kisah asmara yang kita rasakan,

Konflik yang terjadi sebagai bumbu penyedap,

Pengertian-Mu adalah bahagiaku,

Sayangku tanda ikatan kita dan harapku menjadi mimpi bersama kita berdua.




@Ketapang, 13/08/2011.

Cerita Para Petualang Pengintip Satwa Lewat Lensa di Hutan Kota





Sore sudah mulai menampakan bentuk, pancaran sinar matahari sudah mulai redup, sekitar pukul 15.45 wib kemarin sabtu, kami bergegas menggunakan sepeda motor menuju jalan Lingkar (Hutan Kota) dengan maksud untuk mengintip satwa dan obyek apa saja di sekitar hutan tersebut. Hal ini kami lakukan sebagai penyalur hoby dan belajar mengamati flora dan fauna.
Setibanya di jalan gertak, kami sudah disambut oleh dua ekor monyet. Para awak pengintip lensa langsung mengeluarkan senjatanya berupa long tele. Konsentrasi tinggi begitu tampak dari wajah masing-masing penguna kamera untuk sekedar jeprat-jepret monyet dua ekor yang secara tidak sengaja berjumpa dengan kami. Setelah itu kami melanjutkan perjalalan menelusuri gertak (jembatan kecil) satu ke gertak yang lainnya, dalam kesempatan ini juga erik raferna dan frans doni menenjumpai burung raja udang paruh merah (Halchyon coromanda).
Dari penelusuran kami di hutan tersebut kami menjumpai Si Hidung Mancung/Bekantan alias Nasalis Larvatus sangat senang rasanya bisa secara langsung melihat satwa yang tergolong langka tersebut, seketika itu juga para pengintip tidak lengah untuk mengeluarkan lagi long tele (kamera lensa Panjang) untuk mengabadikan gambar Si Hidung Mancung.
Sambil berjalan perlahan, kami juga berbincang-bincang kecil bertutur tentang dunia hijau dan satwa yang di jumpai satu hari sebelumnya yakni Rangkok. Kami sangat berharap hari ini ketemu lagi, tapi hari ini kami kurang beruntung. Sepanjang jalan kami lalui hampir selalu menemui obyek menarik lainnya seperti kupu-kupu, serangga dan tupai. Obyek yang begitu menarik di sekitar hutan tidak serta menarik secara keseluruhan, dikarenakan cukup banyak sampah plastik tersebar di pinggiran kiri dan kanan jalan yang kami lalui.
Kami ber-tujuh penyuka dunia photografi terdiri dari aku, Erik Raferna, Frans Doni, Yopri,Jephi, Rouf dan Ari menyudahi pertualangan mengintip di hutan kota sebab senjapun sudah menyongsong. Sekitar dua jam setengah kami berpetualang dan mengintip ditempat itu, banyak hal menarik yang kami jumpai. Kami berharap minggu depan masih ada waktu untuk berpetualang lagi di tempat ini. Sungguh pertualangan yang mengasyikan (Pit- Yayasan Palung).

Rabu, 03 Agustus 2011

Kerusakan Hutan di Kalimantan



Kalimantan meliputi empat propinsi yakni Kalimantan Barat Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Timur (Kaltim), secara keseluruhan meliputi areal 587.013 km2. Pada tahun 1971 jumlah penduduknya hanya 5,2 juta jiwa, tahun 1980 menjadi 6,7 juta jiwa, tahun 1990 menjadi 9,1 juta jiwa, kemudian tahun 2010 menjadi 13,8 juta jiwa.
Laju pertumbuhan penduduk (LPP) antara tahun 1971-1980 mencapai 3,04 persen per tahun, dan antara 1980-1990 menjadi 3,23 persen per tahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk antara 1990-2010 masih melampaui 2,5 persen. Angka tersebut melampaui rata-rata nasional. LPP yang tinggi terutama disebabkan banyaknya pendatang terutama transmigrasi.
Dengan demikian angka kepadatan penduduk (densitas) pun terus meningkat, jika pad atahun 1971 hanya 10 jiwa per km2, tahun 1980 menjadi 12 jiwa per km2, tahun 1990 mencapai 17 jiwa per km2, dan tahun 2010 melampaui 23 jiwa per km2.
Sebagaimana di pulau-pulau lainnya, penyebaran penduduk di Kalimantan pun tidak merata, daerah yang terpadat ialah Kota Banjarmasin mencapai 8.606 jiwa per km2. Sekitar 17,25 persen penduduk Kalsel bermukim di Banjarmasin. Beberapa daerah padat lainnya ialah Kota Pontianak, Samarinda, Balikpapan, Kabupaten Kotabaru dan Tanah Laut.
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, maka tekanan terhadap lingkungan pun makin meningkat, terutama terhadap hutan. Bisa dikatakan, makin tinggi LPP makin tinggi pula laju kerusakan hutan (deforestasi).
Menurut Goeltenboth (1992), kerusakan hutan tropis awalnya bisa disebabkan banyak hal, misalnya karena pertumbuhan penduduk, kemiskinan, masalah utang luar negeri dan kondisi perekonomian yang buruk. Namun untuk sebagian besar penyebab utamanya karena perluasan lahan pertanian dan perkebunan, pembangunan berbagai proyek swasta besar, serta eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya kayu.
Sedangkan menyangkut penduduk asli disebutkan, bahwa selama berabad-abad, penduduk asli dalam memanfaatkan hutan tanpa merusak keseimbangan ekosistem. Bisa dikatakan bahwa penyebab utama terjadinya kerusakan hutan ialah akibat sikap rakus sebagian pendatang dalam mengeksploitasi lingkungan.
Diperkirakan penebangan hutan berlangsung dengan kecepatan sekitar 1 persen per tahun, atau sekitar 20-40 hektar hutan hilang tiap menit. Keberadaan hutan tropis, termasuk hutan di Kalimantan, terancam oleh dua kegiatan, pertama adanya penebangan secara selektif, terutama untuk menyediakan bahan baku industru kayu (Logs, sawn wood, palywood); kedua adanya penebangan seluruh areal, baik untuk kegiatan pertanian tebar bakar (slash-and-burn agriculture) atau perladangan, membuka perkebunan, peternakan, pertambangan atau industry kayu.
Menurut Wana Khatulistiwa (1992), dua penyebab utama kerusakan hutan tersebut, jika tidak segera dikendalikan dan diperbaiki skenario antisipasinya, oleh banyak kalangan dikhawatirkan akan memperparah laju deforestasi yang selama ini terjadi.
Dalam jangka panjang kerusakan hutan akan berdampak negatif terhadap kehidupan liar (wildlife), perekonomian global dan lokal, mutu kehidupan masyarakat sekitar hutan dan iklim. Bagaimanapun laju deforestasi harus dikendalikan, terlebih jika mengingat hutan Kalimantan secara ekologi dan ekonomi merupakan salah satu yang terpenting di dunia.
Hutan Kalimantan mengandung ribuan spesies burung, reptil dan amfibi. Selain itu merupakan “bank genetik” untuk keperluan pemuliaan tanaman (plant breeding), serta banyak terdapat tumbuhan obat-obatan dan florikultur seperti anggrek. Selain kayu, hutan di Kalimantan juga menghasilkan tengkawang, damar, bambu, minyak kayu putih, terpentin, gondorukem, rotan, sirap, arang, madu, dan sebagainya.
Fungsi ekologi hutan berkaitan dengan isu mengenai pemanasan global dan bocornya lapisan ozon. Bagaimanapun hutan di Kalimantan memberikan kontribusi yang tak sedikit terhadap keseimbangan ekosistem Kalimantan. Seperti melindungi daerah aliran sungai (DAS), menyeimbangkan berbagai siklus unsur hara dan siklus hidrologi, sumber karbon, mengurangi pencemaran udara dan mempengaruhi iklim mikro. Sudah selayaknya di kota-kota yang memiliki unit-unit industri seperti Bontang, Balikpapan, Banjarmasin, dan sebagainya disediakan areal khusus untuk hutan kota.
Menurut laporan FAO tahun 1989, ternyata laju kerusakan hutan di Kalimantan mencapai lebih dari 600 ribu hektar per tahun, dan merupakan yang paling tinggi dibanding pulau-pulau lainnya di Indonesia. Hal tersebut tentu saja patut digaris-bawahi, jangan sampai laju kerusakan tersebut makin tidak terkendali.
Sementara menurut Save Our Borneo (SOB), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli lingkungan, sekitar Juni 2008 mengungkapkan sekitar 80 persen kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan disebabkan ekspansi sawit oleh perusahaan besar. Sekitar 20 persen karena pertambangan dan area transmigrasi. SOB juga mengungkapkan, berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutan (deforestasi) telah mencapai 864 ribu hektare per tahun atau 2,16%. Kerusakan paling luas terjadi di Kalimantan Tengah, yaitu mencapai 256 ribu hektar per tahun, atau sekitar 2,2 persen per tahun.
Jika hal itu dibiarkan berlarut-larut, tak mustahil suatu saat di Kalimantan terjadi proses penggurunan (desertifikasi). Di Planet Bumi sudah ada Gurun Sahara, Gurun Gobi, dan sebagainya. Nah, jangan sampai ada yang dinamakan Gurun Kalimantan. Sudah semestinya prinsip pengelolaan hutan yang berkelanjutan benar-benar diterapkan. (Atep Afia, pengelola http://www.pantonanews.com).

Selasa, 26 Juli 2011

Sispala Tanah Kayong Berkumpul



Pertemuan Sispala Tanah Kayong diadakan di Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kab. Kayong Utara, kegiatan ini dilaksanakan pada 23-24 Juli 2011. Sebagai Panitia Pelaksana dan Penanggung Jawab kegiatan ini dari Yayasan Palung, F.Wendy Tamariska. Adapun para Peserta kegiatan ini terdiri dari ; Sispala CARE SMAN 2 Ketapang, Sispala REPATONES SMA St Yohanes Ketapang, Sispala PASTA SMP St Augustinus Ketapang, Sispala GENTA SMKN 1 Ketapang, Sispala PERAMAS SAKTI SMAN 1 KKU, Sispala LAND (Line Adventure and Discovery) SMKN 1 KKU, Sispala LA (Land Of Adventure) SMAN 2 KKU. Jumlah Peserta Anggota Sispala 22 Orang. Sedangkan Guru Pendamping 3 Orang.
Materi kegiatan ini antara lain adalah: Shering Kegiatan Yang Pernah di lakukan setiap sispala, Pemahaman Materi dasar Sispala dan Field Trip. Sedangkan hasil dari pertemuan ini: Terbentuk nya jaringan Sispala di tanah Kayong ( Ketapang dan Kayong Utara), Kegiatan tahunan Sispala Tanah Kayong. Alur Kegiatan Sispala dari Ketapang berkumpul di kantor Yayasan Palung pukul 08.00 wib. Selanjutnya berangkat menuju Sukadana pada pukul 08.30 wib. Sispala dari KKU langsung berkumpul di tempat kegiatan. Setelah semua sisipala berkumpul di Bentangor di lanjutkan acara pembukaan oleh panitia. Setlah acara pembukaan dilanjutkan dengan perkenalan dari panitia dan peserta serta kegiatan yang telah di lakukan selama ini.
Kegiatan selanjutnya Field Trip Di jalur SD Bentangor,kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan masukan2 dari peserta mengenai jalur Field Trip SD yang telah di buat oleh Yayasan Palung. Pada Malam harinya di lanjutkan dengan kegiatan Pengenalan Yayasan Palung yang di sampaikan oleh Tito P. Indrawan. Diskusi dan latar belakang tentang diadakanya pertemuan Sispala Tanah Kayong oleh Agus Lebam. Pada Pukul 21.00 wib di lanjutkan dengan futsal bersama para peserta di Sukadana untuk lebih mengakrabkan para peserta.
Kegiatan hari kedua pada 24 Juli 2011, di awali dengan pengamatan Fauna di jalur field trip SD, setelah srapan di lanjutkan Uji coba jalur Field Trip Sispala. Selama perjalanan selain di lakukan pengamatan flora dan fauna juga di perkenalkan lokasi-lokasi pembuatan bivak (tempat pembuatan Camp) dan lokasi mountenering (Tebing Penage), karena merupakan jalur field trip sispala maka di sepanjang jalur dapat di gunakan sebagai lokasi praktek lapangan materi2 sispala yang telah di berikan. Kegiatan terakhir di lanjutkan dengan Rencana tindak lanjut kedepan yang telah merumuskan: Adanya jaringan Sispala Tanah Kayong, adanya kegiatan tahunan bersama Sispala, dan diharapan terbentuknya forum komunikasi guru pembina sispala di Tanah Kayong ujar Agus Lebam. (Pit- YP).

Minggu, 17 Juli 2011

Apa Saja yang Terdapat di dalam kawasan Rawa Gambut ?

1.Estimasi ( perkiraan) jumlah bahan organic yg terpendam dalam rawa Indonesia sebesar 60,5 m³.
2.Pada hutan rawa gambut di Indonesia akan ditemukan banyak jenis pohon, sekitar 60 jenis mempunyai nilai ekonomis , lebih dari 100 jenis satwa yang terdiri dari mamalia ,Reptilia, dan 60 jenis burung dan 142 jenis ikan.
3.Kawasan rawa gambut di Indonesia diperkirakan seluas 39,4 juta Ha dan dari luas tersebut hanya 9,4 juta Ha untuk pertanian. Selanjutnya, hampir 70% atau 32,4 juta Ha adalah rawa pedalaman dan 18% merupakan daerah pasang surut dimana sepertiganya berasosiasi(bergabung/berhubung) dengan sulfat masam.
4.Gambut dengan ketebalan 3 m atau lebih termasuk kategori kawasan lindung sebagai kawasan yang tidak boleh diganggu. Kebijakan ini telah dituangkan oleh pemerintah melalui kepres no. 32 tahun 1990, yang merupakan kebijakan umum dalam reklamasi dan pemanfaatan lahan gambut di Indonesia.
5.Kalimantan sebagai kawasan gambut terbesar luasnya, memiliki potensi yang sangat penting sebagai sumber daya lahan untuk pertaniaan dan wilayah pengembangan ikan air tawar serta sebagai wilayah masa depan untuk pencegah banjir.
6.Luas kawasan mangrove di Indonesia 9, 362 juta Ha dan kerusakannya telah mencapai 5,656 juta Ha atau 70% dari jumlah mangrove.
7.Lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 300 cm merupakan kawasan pereservasi(pengawetan, pemilihara, penjaga dan perlindungan).
8.Dari luas gambut Kalimantan 5,76 Ha, kandungan karbon dari gambutnya 22.274 juta ton (wahyanto dkk, 2005).
9.Assosiated Press melaporkan bahwa tingkat pelepasan CO2 di atmosfer sudah mencapai 381 ppm atau pada tahun 2005 lalu mengalami kenaikan 2,6 ppm. (wahyanto dkk, 2005).

Pit, dari berbagai Sumber.
PUISI HUTAN


Aku hutan, aku ingin angkat bicara
Aku hutan, sekarang dan akan datang
Aku hutan, tanggung jawab aku dan kalian secara bersama-sama, jaga dan lestarikan aku mulai dari sekarang
Hidup aku menggantung dan tergantung padamu, aku sudah sangat terusik oleh tangan-tangan tak terlihat
Kehidupan kami sangat tergantung padamu, tetapi sekarang tampaknya kita mulai kurang menghargai satu sama lain
Harapan aku , kita semua dapat saling menghargai, rawat dan jaga kami sampai akhir jaman.

oleh : Petrus Kanisius Pit pada 24 /03/ 2010

Rabu, 29 Juni 2011

Petani Karet Berjuang Demi Eksistensi

Oleh: Petrus Kanisius Pit
Warga Ketapang

Tribun Pontianak
Citizen Reporter
Selasa, 28 Juni 2011 19:03 WIB

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Seiring dengan perkembangan masyarakat pedalaman (mereka petani karet) di Kalimantan Barat para petani terus berjuang mem mpertahankan eksistensinya.

Mereka ingin merasakan keadilan, karena ada sebuah kesenjangan diantara para petani padahal secara kerja sudah tersedia lahan atau kebun mereka.

Yang mengharukan bagi mereka adalah keberpihakan harga terkadang memberatkan mereka. Di tingkat harga masih ada yang sengaja memainkan harga, secara khusus adalah pengusaha. Untuk sementara ini petani karet agak puas dengan adanya harga yang mulai berpihak.

Sebagian besar petani menggantungkan hidup mereka kepada hasil karet. Seperti saat ini harga karet di pasar dunia melambung tinggi, demikian juga harganya di tingkat lokal.

Menurut pendangan para petani karet, dengan adanya sedikit peningkatn harga itu sangat membantu untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

Biasanya hasil dari penjualan karet digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak melanjut ke tingkat SMU dan Perguruan Tinggi. Seperti saya alami, semasa kuliah sampai saat ini orangtua sangat tergantung dengan pertanian karet.

Dari sekian banyak orang di kampung saya sebagian besarnya sebagai petani. Ada beberapa poin penting bagi petani karet untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Pertama, secara global masyarakat di daerah pedalaman sebagai salah satu penghasil karet terbesar, karena secara keseluruhan mereka sangat mengarapkan ada perbaikan di tingkat mereka khususnya tarap hidup.

Tarap hidup masyarakat di derah pedalaman kalbar, lebih khusus masyarakat Kabupaten Ketapang sangat membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, dengan ansumsi dibutuhkan agen perubahan bagi mereka yang selama ini jarang atau bahkan tidak memperhatikan karet.

Seperempat dari wilayah di KabupatenKetapang adalah kebun petani karet dan sisanya adalah lahan untuk berladang atau dapat diartikan sebagai petani padi. Dengan mengacu pada harga karet sekarang, mereka secara langsung dapat bertahan dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup.

Kedua, sebagai lahan yang ramah lingkungan, karet merupakan lahan yang dapat dikembangkan tanpa merusak lahan atau pencemaran lingkungan.

Petani karet pada umumnya adalah mereka yang mengerti dan paham dalam bercocok tanam. Segala kebutuhan memberi harapan yng baik bagi lingkungan dimasa mendatang, mereka ikut menjaga lingkungan sekitar.

Ketiga, dengan peningkatan harga karet paling tidak mampu memberikan imbal balik kepada peningkatan perekonomian masyarakat di daerah. Peningkatan tarap hidup khususnya para petani memang selayaknya perlu untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Selain itu juga petani karet memberikan arti penting bagi petani lain untuk terus semangat dan terus berjuang di era ekonomi sekarang yang tidak menentu. Sebagai catatan kita semua, sumber pendapatan terbesar dari masyarakat pedalaman di Kabupaten Ketapang adalah petani karet.

Perjuangan mereka perlu adanya suatu pengelolaan dan kebijakan nyata yang baik, untuk sementara ini Pemerintah daerah sudah mengarah ke ranah masyarakat khususnya petani karet.

Tindakan nyata Pemda adalah dengan merealisasikan bibit karet dan membatasi perkebunan sawit dan pertambangan. Semoga saja petani karet berjaya di masa mendatang.

Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak

Senin, 27 Juni 2011

Petani Karet dan Perjuangan Mempertahankan Eksistensi mereka di Daerah Pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat




Seiring dengan perkembangan, masyarakat di daerah khususnya masyarakat pedalaman (mereka petani karet) di daerah Pedalaman Kalimantan Barat, sering merasakan ketidakadilan. Sementara mereka ingin merasakan keadilan, dengan kata lain ada sebuah kesenjangan diantara para petani, mereka secara kerja sudah tersedia lahan atau kebun mereka. Tetapi yang mengharukan bagi mereka adalah keberpihakan harga yang terkadang memberatkan mereka. Di tingkat harga masih ada yang sengaja memainkan harga, secara khusus adalah pengusaha. Untuk sementara ini petani karet agak puas dengan adanya harga yang mulai berpihak. Sebagian besar petani menggantungkan hidup mereka kepada hasil karet.
Seperti saat ini harga karet di pasar dunia melambung tinggi, demikian juga harganya di tingkat lokal. Menurut pendangan para petani karet, dengan adanya sedikit peningkatn harga itu sangat membantu mereka untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Biasanya hasil dari penjualan karet digunakan sebagai biaya pendidikan anak-anak mereka melanjutkan pendidikan ke tingkat SMU dan Perguruan Tinggi. Seperti yang dialami saya, semasa kuliah sampai saat ini orangtua sangat tergantung dengan pertanian karet. Dari sekian banyak orang di kampung saya
sebagian besar mereka sebagai petani. Ada beberapa poin penting bagi mereka petani karet untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
Pertama, secara global masyarakat di daerah pedalaman sebagai salah satu penghasil karet terbesar, karena secara keseluruhan mereka sangat mengarapkan ada perbaikan di tingkat mereka khususnya tarap hidup. Tarap hidup masyarakat di derah pedalaman kalbar, lebih khusus masyarakat Kabupaten Ketapang sangat membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, dengan ansumsi dibutuhkan agen perubahan bagi mereka yang selama ini jarang atau bahkan tidak memperhatikan karet. Seperempat dari wilayah di KabupatenKetapang adalah kebun petani karet dan sisanya adalah lahan untuk berladang atau dapat diartikan sebagai petani padi. Dengan mengacu pada harga karet sekarang, mereka secara langsung dapat bertahan dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup.
Kedua, sebagai lahan yang ramah lingkungan, karet merupakan lahan yang dapat dikembangkan tanpa merusak lahan atau pencemaran lingkungan. Petani karet pada umumnya adalah mereka yang mengerti dan paham dalam bercocok tanam. Segala kebutuhan memberi harapan yng baik bagi lingkungan dimasa mendatang, mereka ikut menjaga lingkungan sekitar.
Ketiga, dengan peningkatan harga karet paling tidak mampu memberikan imbal balik kepada peningkatan perekonomian masyarakat di daerah.
Peningkatan tarap hidup khususnya para petani memang selayaknya perlu untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak. Selain itu juga petani karet memberikan arti penting bagi petani lain untuk terus semangat dan terus berjuang di era ekonomi sekarang yang tidak menentu. Sebagai catatan kita semua, sumber pendapatan terbesar dari masyarakat pedalaman di Kabupaten Ketapang adalah petani karet. Perjuangan mereka perlu adanya suatu pengelolaan dan kebijakan nyata yang baik, untuk sementara ini Pemerintah daerah sudah mengarah ke ranah masyarakat khususnya petani karet. Tindakan nyata Pemda adalah dengan merealisasikan bibit karet dan membatasi perkebunan sawit dan pertambangan. Semoga saja petani karet berjaya di masa mendatang. (Pit).
Photo dari : serikatpetanikaret.blogspot.com

Kamis, 23 Juni 2011

Hubungan Erat Lingkungan dan Budaya terkait Hak Masyarakat Adat

Hubungan erat antara budaya dan lingkungan adalah sangat jelas bagi masyarakat adat. Semua masyarakat adat memiliki hubungan spritual, budaya, sosial dan ekonomi dengan wilyah tradisionalnya. Hukum-hukum adat, tradisi dan praktek-praktek yang menggambarkan keterikatan atas tanah dan tanggung jawab untuk melestarikan wilayah tradisional untuk kebutuhan generasi selanjutnya. Sebagai contoh di Amerika Tengah, di lembah Amazon, Asia, Amerika Utara, Australia dan Afrika Utara, keberlangsungan hidup dan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat adat di sana tergantung pada perlindungan wilayah dan sumberdayanya.

Selama berabad-abad, hubungan antara masyarakat adat dan lingkungannya telah terkikis dengan hilangnya kepemilikan wilayah atau dipaksa pindah dari wilayah tradisional dan lokasi-lokasi penting mereka. Hak tanah, tata guna lahan dan pengelolaan sumberdaya tetap merupakan masalah-masalah kritis bagi masyarakat adat di seluruh dunia. Proyek-proyek pembangunan, penambangan, kegiatan kegiatan kehutanan dan program-program pertanian terus-menerus menyingkirkan masyarakat adat. Kerusakan lingkungan yang terjadi sangat besar: tumbuh-tumbuhan dan berbagai jenis satwa menjadi punah atau terancam punah, ekosistem-ekosistem unik telah hancur, sungai dan tangkapan air lainya telah terpolusi berat. Berbagai varietas tanaman-tanaman komersil telah menggantikan varietas-varietas lokal yang digunakan dalam sistem pertanian tradisional, yang mengakibatkan peningkatan metode pertanian industrial.

Momen penting dalam perjuangan hak-hak masyarakat adat yang terkait dengan lingkungan terlihat jelas dalam Konferensi PBB Mengenai Lingkungan dan Pembangunan (Konferensi Tingkat Tinggi Bumi atau sering disebut KTT Bumi) yang diselenggarakan di Brazil pada 1992. Sejumlah instrumen hukum disahkan dalam KTT Bumi tersebut, antara lain Deklarasi Rio, Agenda 21 dan Konvensi Keanekaragaman Hayati, yang menjadi standar hukum internasional untuk melindungi hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan dan praktek-praktek tradisional yang mereka miiliki di wilayah-wilayah pengelolaan lingkungan dan konservasi (dalam Lembar 10 Masyarakat Adat dan Lingkungan hal 1-2). Poin penting dari hasil pertemuan tersebut adalah saat ini kita memiliki kerangka hukum internasional yang mengakui hubungan khusus yang dimiliki oleh masyarakat adat dengan wilayah tradisionalnya.


Penghargaan Masyarakat Terhadap Adat dan Lingkungan

Secara jelas bahwa pemerintah harus mengakui hak-hak warisan leluhur masyarakat adat untuk menempati, memiliki dan mengelola wilayah tradisional dan teritorinya semakin bertambah banyak. Banyak negara juga telah membentuk Kementerian Lingkungan dan menyusun Pernyataan dan Strategi Strategi Kebijakan Lingkungan Skala Nasional. Meskipun beberapa pemerintah saat ini telah melakukan konsultasi dengan masyarakat adat menyangkut masalah kepemilikan tanah dan lingkungan, banyak juga pemerintah yang belum membuat peraturan hukum dan kebijakan yang memungkinkan masyarakat adat mengklaim tanah-tanah adat atau mempromosikan partisipasi masyarakat adat.
Pada tatanan masyarakat kita (khususnya di Masyarakat Dayak), hubungan erat antara lingkungan dan budaya menyngkut masyarakat adat sangat jelas terlihat, seperti misalnya pengargaan masyarakat terhadap tradisi berkaitan dengan berladang. Pada tahapan berladang ini sangat jelas terlihat bahwa adat dan tradisi begitu sangat dijunjung tinggi. Setiap memulai dan mengahkiri kegiatan selalu memakai simbol-simbol adat dan tradisi adat sebagai patokan penghargaan terhadap budaya (adat dan tradisi ) dan lingkungan.
Beberapa waktu lalu ada sebuah tulisan yang sangat menarik dari Stanislaus Riyanta yang saya baca di kompasiana (Kompas) online, tulisannya menyebutkan ; “Saya setengah iri setengah kagum dengan cara masyarakat Dayak mengelola alam dan lingkungannya. Rasa iri dan kagum ini muncul karena saya melihat bahwa masyarakat dayak terutama Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat bisa menggunakan perspektif budaya dalam mengelola alam dan lingkungannya”.
Pernyataan ini sangat beralasan sekali karena, pertama masyarakat adat sangat menghargai lingkungan dan budaya dalam kehidupan mereka sehari-hari berkaitan kebiasaan dan rutinitas. Penghargaan terhadap lingkungan (alam atau hutan) dan tentunya sangat berkaitan. Kedua, Lingkungan dan budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Dayak. Mengapa dikatakan demikian, salah satu alasan sudah barang tentu adalah peran lingkungan dan budaya sangat besar dalam kehidupan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Ketiga, Penghargaan terhadap lingkungan dan budaya terlihat dari antusias masyarakat adat yang selalu mengadakan tradisi tahunan seperti Gawai Adat Dayak, Naik Dango, Nyapat Taun’t dan banyak lagi kegiatan lainnya. Hal ini sebagai simbol penghargaan terhadap lingkungkan (alam atau hutan) dan budaya
sebagai napas dan hidup tempat berpijak. Saat ini kondisi sedikit lingkungan semakin memprihatinkan alam dan lingkungan semakin rusak, budaya semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Harapan satu-satunya adalah tinggal bagaimana kita semua, kaum muda untuk selalu menjunjung tinggi nilai budaya dan selalu tanggap. Sebelum terlambat berbuatlah sekecil apapun itu, lingkungan dan budaya akan menghargai kita apabila kita juga menghormati mereka. (P. K. Pit).

Rabu, 22 Juni 2011

Kisah-Kisah Inspiratif

Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kembali semangat kita
10 ALASAN BAIK MENGAPA KITA PERLU BERDOA DENGAN TEKUN
1. Mengurangi daya stress yang ditimbulkan oleh beraneka ragam persoalan hidup yang kita alami mereka yang suka malas berdoa akan lebih mudah untuk mengalami stress
2. Menurunkan tingkat emosi atau kemarahan mereka yang lebih sering berdoa akan lebih mampu mengendalikan diri dalam hal emosi dan kemarahan mereka yang sedang mau marah dan kemudian berdoa niscaya emosinya menjadi stabil
3. Mengurangi bahkan menghilangkan rasa putus asa mereka yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan lebih untuk tidak mudah putus asa saat berada dalam kegagalan dibanding mereka yang jarang bahkan sama sekali malas berdoa
4. Meningkatkan ketegaran hati mereka yang lebih tekun berdoa akan lebih tegar menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar yang dikehendakinya bahkan peristiwa pahit sekalipun
5. Meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit-penyakit yang disebabkan gangguan psikis dengan ketekunan dalam berdoa, seseorang akan memiliki daya tahan secara fisik karena mampu untuk menghadapi dan menjalani kehidupan dengan segala peristiwanya dalam terang Kehendak Allah, sehingga tubuh tidak menjadi mudah lemah karena beban pikiran dan pekerjaan (bhs Jawa Nrimo)
6. Membuat orang menjadi lebih terbuka terhadap kelemahan dan kekurangan sesama mereka yang tekun berdoa dengan baik memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap sesamanya karena ia akan terbantu dalam doa-doanya untuk menyadari juga kelemahan-kelemahan nya sendiri
7. Meningkatkan daya cinta kasih kepada diri sendiri dan orang lain ketekunan dalam doa membuat seseorang memiliki relasi intim dengan Tuhan Allah. Allah sendiri adalah kasih maka mereka yang tekun berdoa niscaya memiliki daya cinta kasih yang lebih kepada diri sendiri dan sesamanya. Mereka yang terjerumus dalam narkoba pastilah orang yang tidak tekun berdoa karena tidak mampu mencintai dan mengasihi diri sendiri
8. Meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan diri. Seseorang yang dalam hidupnya tekun untuk berdoa akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih maksimal, karena ia akan semakin memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan dan bagaimana seharusnya dikembangkan
9. Menjadikan yang tidak baik menjadi baik setiap orang yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan untuk merubah yang tidak baik menjadi baik, dibandingkan mereka yang malas berdoa justru menjadikan yang baik menjadi buruk
10. Layak menerima keselamatan. Dengan berdoa tekun seseorang mendapatkan kesempatan untuk semakin kuat dan bahkan karena relasinya yang baik dengan Allah selagi di dunia ini ia juga akan mengalami yang sama kelak di keabadian
Oleh : Amisani K, Pr
Sumber : Kisah-kisah Inspiratif.net

Merindukanmu

Detik waktu,isyaratkan namamu..
mengalir merdu,mengiringi setiap detak jantungku..
Adakah engkau tahu,betapa di sini q sangat merindukanmu..
dan berharap dirimu,juga mengalami hal yang sama seperti aku..
untaian kasih ini terlalu panjang jika ku ungkapkan..
buaian cinta ini terlalu rumit jika kuutarakan..
bersamamu sayang, segalanya terciptakan..
bersamamu sayang, kasih ini selalu tersampaikan..
raihlah rinduku dalam genggam tanganmu..
bawalah cinta yang mungkin akan menjadi hal baru dalam hidupmu..
buang egois itu, jauhkan cemburumu..
karena aku merindukanmu selalu dalam hatiku..
By : Ghalu Malhotra

Sampaikan Syukur Dengan Ritual Adat

Citizen Reporter

Senin, 6 Juni 2011 21:18 WIB


Oleh : Petrus Kanisius Pit

Pada tanggal 4-5 Juni 2011, di Desa Laman Satong, kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) diadakan Kegiatan adat nyapat Taun’t (Nyelepit Taun’t) oleh masyarakat setempat.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan rutin masyarakat yang dilakukan pada saat memulai dan mengakhiri masa panen.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat sebagai ungkapan syukur atas panen yang mereka peroleh dan rencana untuk berladang pada tahun berikutnya.
Seluruh masyarakat secara secara kompak untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk kegiatan. Seperti misalnya setiap kepala keluarga atau rumah menyiapkan lemang (beras ketan yang di masak dalam buluh/ bambu) yang nantinya di bawa ke rumah adat. Segala keperluan adat di siapkan secara bersama-sama oleh masyarakat.
Kegiatan Nyapat Taun’t ini di gelar oleh masyarakat di rumah adat Laman Satong di Dusun Manjau di mulai pukul 07.00-23.00 wib, selanjutnya dilanjutkan pada keesokan harinya. Pada malam harinya masyarakat berkumpul di rumah adat untuk menerangkan adat-adat nyelepit taun’t.
Kegiatan ini dimulai dengan ditandai oleh berkumpulnya para demong adat, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat untuk berkumpul dan makan bersama, selanjutnya para demong adat menerangkan adat nyapat taun’t sersebut dan menjelaskan maksud diadakan kegiatan ini.
Seperti terlihat dalam acara ini, berbagai kegiatan seperti adat seperti minum tuak di dalam tempayan, tuak dimasukkan kedalam tempayan yang sudah disiapkan.
Tempayan tersebut diberi pipa dari bambu sebagai sedotan minuman di dalam tempayan tersebut. Berbagai sesajian di siapkan untuk sang Duata berupa beras ketan dan beras bisa yang dimasak, lemang (beras ketan/pulut) yang dimasak di bambu dan sesajian lainnya seperti Kapur sirih, pinang dan rokok.
Menurut Yohanes Terang, satu tokoh masyarakat Manjau menjelaskan kegiatan tersebut rutin dilakukan sebagai ungkapan syukur atas panen tahun lalu dan rencana untuk berladang selanjutnya.


Kegiatan ini juga sebagai bentuk peduli masyarakat pada Sang Duata (Pencipta/ Tuhan), terhadap adat dan tradisi serta peduli dengan lingkungan sekitar . lebih lanjut beliau menegaskan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian seluruh masyarakat untuk selalu bersyukur untuk selalu dilaksanakan.
Sebagai undangan dalam kegiatan ini Yayasan Palung berkesempatan untuk merekam dan mendokumentasikan kegiatan berdasarkan permintaan masyarakat.
Untuk meramaikan acara Yayasan Palung diberi kesempatan untuk memutar film lingkungan di Manjau pada tanggal 30-31 Mei 2011. Pemutaran film dilakukan oleh Bedu Nugroho dan Tito Indrawan (Manager PPS Hukum Yayasan Palung).
Selanjutnya pada tanggal 4-5 Juni 2011 kembali dilaksanakan pemutaran film lingkungan dan film hiburan, dari Yayasan Palung yang hadir dalam acara adat Agus Lebam, Petrus Kanisius, F. Wendy Tamariska dan Relawan Bentangor Yayasan Palung ( Reno dan Andi RebonK).
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tokoh masyarakat Manjau, tamu undangan dan pejabat pemerintah. Acara ini berakhir sore Minggu dengan ditandai dengan menari bersama dengan diiringi musik dan tabuhan gendang dan gamalan sebagai penutup rangkaian acara.

Penulis : Pionerson Ucok Situmorang
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak

Yayasan Palung Audiensi dengan Bupati

Citizen Reporter

Senin, 20 Juni 2011 19:20 WIB
Petrus Kanisius Pit
Aktivis Yayasan Palung

Tanggal 20 Juni 2011, Yayasan Palung dan sejumlah Ngo mengadakan Audiensi, bertempat di ruang rapat Bupati. Audiensi dengan tema: Upaya Penegakan Hukum dan Perlindungan Satwa.
Tujuan dari kegiatan ini dengan harapan Ngo-Ngo bersama-sama Pemda dan dinas terkait untuk bekerjasama dalam proses penegakan hukum terkait banyaknya ancaman terhadap satwa dilindungi.
Selama tiga jam setengah berdiskusi dengan Bapak Drs. Hendrikus, M.Si. , banyak hal yang di bahas. Dalam kata sambutannya bupati berterima kasih kepada Yayasan Palung dan semua Ngo untuk mengadakan audiensi ini. Pada pertemuan ini semua Ngo berkesempatan untuk memaparkan dan mengusulkan terkait regulasi tentang kawasan konservasi, harapannya ada kerjasama dan dukungan dari pemerintah.
Ada tujuh (7) usulan dari semua Lembaga Swadaya Masyarakat yang tergabung, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, dari tahun 2007 sampai sekarang belum ada penegakan hukum terkait perdagangan, pemiliharaan dan pembunuhan terhadap satwa dilindungi di Kabupaten Ketapang.
Mengingat dari data Yayasan Palung sebanyak 215 pemiliharaan, hanya 90 satwa yang ditindak lanjuti itu pun hanya terbatas pada satwanya saja.
Kedua, mengharapkan kepada Pemerintah daerah untuk melasanakan pembangunan yang berbasis pada keadilan dan kelestrian lingkungan berkelanjutan.
Tiga, mengusulkan kepada pemerintah untuk tidak mengeluarkan ijin baru pembukaan lahan. Empat, Mengarapkan produk hukum; hal ini menyangkut poin (1) tentang penegakan hukum.
Lima, adanya dukungan dana dari Pemerintah; pendanaan ini dimaksudkan bagi rehabilitasi dan pelepasan satwa dilindungi dari kandang transit, mengingat saat ini belum ada Orangutan yang direhabilitasi kembali ke habitat aslinya.
Saat ini ada 38 ekor Orangutan di kandang transit (data IAR). IAR sudah menyiapkan lokasi di Gunung Tarak dan lahan di Sungai Awan (masih terkendala ijin) untuk pelepasan Orangutan.
Enam, adanya produk hukum tentang RTRWK menyangkut tata kelola dan tata ruang, dan tujuh mengajak perusahaan-perusahan (pertambangan dan perkebunan) untuk melakukan pengelolaan berdasarkan konsesi, perusahaan diwajibkan menyiapkan lahan untuk konservasi.
Ketujuh butir usulan tersebut mendapat sambutan baik dari bapak Bupati. Menurut beliau semua (Pemerintah dan Ngo-Ngo)harus berperan untuk membangun kabupaten Ketapang melalui sosialisasi (melalui pendampingan, penyadaran kepada masyrakat melalui Audio visual, misalnya pemutaran film lingkungan dan satwa) dan koordinasi tentang hal ini.
Selain itu juga, secara khusus untuk lahan gambut hanya di perbolehkan untuk tanaman padi saja. Lebih lanjut Bapak Hendrikus menyatakan bahwa saat ini ada 1000 hektar Kawasan Nilai Konservasi Tinggi (KNKT) di Sungai Tengar dan menyiapkan 31 juta Hektar di pulau Sawi dan pulau Bawal. Tidak kalah pentingnya bupati menegaskan adanya Moratorium (penundaan/penangguhan ijin) bagi Perusahaan-perusahaan yang ada jika di kemudian hari melanggar ketentuan-ketentuan yang ada.
Kerjasama semua pihak merupakan salah satu harapan terbaik dari bapak bupati, beliau juga menginginkan adanya kesinambungan dari audiensi ini dan terus menerus untuk bersama mengadakan audiensi di kesempatan lainnya.

Bupati ketapang menegaskan tidak akan memberikan ijin lagi untuk pembukaan lahan. Jika ada, itu hanya untuk perkebunan gula dan jagung saja. Adapun yang hadir dalam acara Audiensi ini adalah Yayasan Palung, Yayasan Warisan, IAR, FFI, KKK(K3), Dinas Kehutanan dan dari media cetak yang ada. Kegiatan ini dimulai dari pukul 09.00 dan berakhir pukul 11.30 wib.

Pertemuan ini sebagai langkah untuk bagaimana menghargai lingkungan dan membangun Ketapang secara bersama-sama dan berkelanjutan harap bupati.

Penulis : Pionerson Ucok Situmorang
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak

Selasa, 21 Juni 2011

Perjalanan Hidup Menyusuri Waktu




Melihat eloknya sang surya dan alam semesta memberi seribu makna dalam hidup, Kehidupan dan hidup kita di dunia. Semangat diantara kebebasan, keterbatasan, tanggungjawab, harga diri, harapan, impian dan kasih seakan menjadi bukti nyata hidup. Mana kala hidup ini tidak tinggal diam dan berusaha untuk selalu semangat dan berjuang. Anugerah terindah yang diberikan memberi arti tiada tara, sahabat, teman, orang-orang terdekat, orang tua dan orang yang selalu dihati menjadi sumber semangat yang begitu berarti.
Hidup memang penuh dengan tantangan dan cobaan, akan tetapi harapan dan semangat harus selalu menggelora di hati. Selangkah atau sekali menyusuri, memberi keinginan untuk terus mencoba. Bahkan mungkin saja seribu bahkan berjuta-juta makna dan harapan yang didapat. Segala sesuatunya mungkin terjadi,dengan patokan keinginan dan kemauan kuat. Kasih dari Yang Kuasa, Orang lain, sahabat dan orang terdekat begitu besar, tidak terbalaskan oleh apapun. Namun terkadang kita selalu lupa untuk bersyukur dan cenderung congkak dan egois terhadap diri. Tetapi semuanya itu adalah pelajaran hidup untuk mengarungi perjalanan panjang sang waktu.
Segala sesuatu itu baik dan idah adanya, senyuman dan tangis menjadi tanda perjuangan untuk selalu mendengungkan dan mencari arti dan makna Kehidupan. Setiap detik waktu dan sejengkal pengalaman memberi mimpi akan perbuatan yang kita laksanakan sebagai langkah dan kemauan nyata, tanpa paksaan dan dokma. Keiklasan untuk berbuat sebagai pemicu untuk selalu melangkah walau diterba dan didera oleh kerikil-kerikil dan ombak bahkan badai. Keindahan, kebaikan, cinta, damai, kemaun dan harap serta semuanya adalah doa dikala kita mau mencoba.
Setiap ilmu, pengalaman, doa dan kasih adalah rejeki dari Yang Kuasa manakala hidup selalu bersyukur. Perjalanan hidup setip orang terkadang memang tidak bisa ditebak, ada baik ada buruk, ada suka ada duka, ada sehat ada sakit, ada kaya ada miskin, ada dusta dan ada kebenaran, ada cinta ada kerinduan. Semua ini sebagai pelengkap hidup, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna apabila satu dengan yang lainnya tidak saling melengkapi.
Segala harap dan berkat akan tumbuh dan menjadi nyata apabila satu sama lainnya memahami, mengerti dan menerima apa adanya. Cinta, rindu dan kasih sayang, persahabatan adalah perjalanan hidup menyusuri waktu. Perbuatlah sesuatu selagi mampu berbuat, hidup memang indah dan sangat berarti, berkat dari Tuhan adalah kekuatan dikala kita tidak berdaya dan menyerah. Gelorakan semangatmu sebagai langkah pasti akan segala sesuatu yang akan dikerjakan, semangatku adalah jiwaku, belajar dan mencoba untuk mengerti tentang hidup.(Pit).
foto : internet.