Oleh: Petrus Kanisius Pit
Warga Ketapang
Tribun Pontianak
Citizen Reporter
Selasa, 28 Juni 2011 19:03 WIB
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Seiring dengan perkembangan masyarakat pedalaman (mereka petani karet) di Kalimantan Barat para petani terus berjuang mem mpertahankan eksistensinya.
Mereka ingin merasakan keadilan, karena ada sebuah kesenjangan diantara para petani padahal secara kerja sudah tersedia lahan atau kebun mereka.
Yang mengharukan bagi mereka adalah keberpihakan harga terkadang memberatkan mereka. Di tingkat harga masih ada yang sengaja memainkan harga, secara khusus adalah pengusaha. Untuk sementara ini petani karet agak puas dengan adanya harga yang mulai berpihak.
Sebagian besar petani menggantungkan hidup mereka kepada hasil karet. Seperti saat ini harga karet di pasar dunia melambung tinggi, demikian juga harganya di tingkat lokal.
Menurut pendangan para petani karet, dengan adanya sedikit peningkatn harga itu sangat membantu untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka.
Biasanya hasil dari penjualan karet digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak melanjut ke tingkat SMU dan Perguruan Tinggi. Seperti saya alami, semasa kuliah sampai saat ini orangtua sangat tergantung dengan pertanian karet.
Dari sekian banyak orang di kampung saya sebagian besarnya sebagai petani. Ada beberapa poin penting bagi petani karet untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
Pertama, secara global masyarakat di daerah pedalaman sebagai salah satu penghasil karet terbesar, karena secara keseluruhan mereka sangat mengarapkan ada perbaikan di tingkat mereka khususnya tarap hidup.
Tarap hidup masyarakat di derah pedalaman kalbar, lebih khusus masyarakat Kabupaten Ketapang sangat membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, dengan ansumsi dibutuhkan agen perubahan bagi mereka yang selama ini jarang atau bahkan tidak memperhatikan karet.
Seperempat dari wilayah di KabupatenKetapang adalah kebun petani karet dan sisanya adalah lahan untuk berladang atau dapat diartikan sebagai petani padi. Dengan mengacu pada harga karet sekarang, mereka secara langsung dapat bertahan dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup.
Kedua, sebagai lahan yang ramah lingkungan, karet merupakan lahan yang dapat dikembangkan tanpa merusak lahan atau pencemaran lingkungan.
Petani karet pada umumnya adalah mereka yang mengerti dan paham dalam bercocok tanam. Segala kebutuhan memberi harapan yng baik bagi lingkungan dimasa mendatang, mereka ikut menjaga lingkungan sekitar.
Ketiga, dengan peningkatan harga karet paling tidak mampu memberikan imbal balik kepada peningkatan perekonomian masyarakat di daerah. Peningkatan tarap hidup khususnya para petani memang selayaknya perlu untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Selain itu juga petani karet memberikan arti penting bagi petani lain untuk terus semangat dan terus berjuang di era ekonomi sekarang yang tidak menentu. Sebagai catatan kita semua, sumber pendapatan terbesar dari masyarakat pedalaman di Kabupaten Ketapang adalah petani karet.
Perjuangan mereka perlu adanya suatu pengelolaan dan kebijakan nyata yang baik, untuk sementara ini Pemerintah daerah sudah mengarah ke ranah masyarakat khususnya petani karet.
Tindakan nyata Pemda adalah dengan merealisasikan bibit karet dan membatasi perkebunan sawit dan pertambangan. Semoga saja petani karet berjaya di masa mendatang.
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
Petrus Kanisius (Pit) "Ingin terus belajar menulis", "Bersahabat dengan Siapa Saja", "Ingin selalu Setia dan tulus", "Menerima apa adanya", "Ingin terus tersenyum & bahagia. "Selagi nafasku masih ada, maka aku akan selalu Orat- oret dengan Tulisanku"
Rabu, 29 Juni 2011
Senin, 27 Juni 2011
Petani Karet dan Perjuangan Mempertahankan Eksistensi mereka di Daerah Pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Seiring dengan perkembangan, masyarakat di daerah khususnya masyarakat pedalaman (mereka petani karet) di daerah Pedalaman Kalimantan Barat, sering merasakan ketidakadilan. Sementara mereka ingin merasakan keadilan, dengan kata lain ada sebuah kesenjangan diantara para petani, mereka secara kerja sudah tersedia lahan atau kebun mereka. Tetapi yang mengharukan bagi mereka adalah keberpihakan harga yang terkadang memberatkan mereka. Di tingkat harga masih ada yang sengaja memainkan harga, secara khusus adalah pengusaha. Untuk sementara ini petani karet agak puas dengan adanya harga yang mulai berpihak. Sebagian besar petani menggantungkan hidup mereka kepada hasil karet.
Seperti saat ini harga karet di pasar dunia melambung tinggi, demikian juga harganya di tingkat lokal. Menurut pendangan para petani karet, dengan adanya sedikit peningkatn harga itu sangat membantu mereka untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Biasanya hasil dari penjualan karet digunakan sebagai biaya pendidikan anak-anak mereka melanjutkan pendidikan ke tingkat SMU dan Perguruan Tinggi. Seperti yang dialami saya, semasa kuliah sampai saat ini orangtua sangat tergantung dengan pertanian karet. Dari sekian banyak orang di kampung saya
sebagian besar mereka sebagai petani. Ada beberapa poin penting bagi mereka petani karet untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
Pertama, secara global masyarakat di daerah pedalaman sebagai salah satu penghasil karet terbesar, karena secara keseluruhan mereka sangat mengarapkan ada perbaikan di tingkat mereka khususnya tarap hidup. Tarap hidup masyarakat di derah pedalaman kalbar, lebih khusus masyarakat Kabupaten Ketapang sangat membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, dengan ansumsi dibutuhkan agen perubahan bagi mereka yang selama ini jarang atau bahkan tidak memperhatikan karet. Seperempat dari wilayah di KabupatenKetapang adalah kebun petani karet dan sisanya adalah lahan untuk berladang atau dapat diartikan sebagai petani padi. Dengan mengacu pada harga karet sekarang, mereka secara langsung dapat bertahan dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup.
Kedua, sebagai lahan yang ramah lingkungan, karet merupakan lahan yang dapat dikembangkan tanpa merusak lahan atau pencemaran lingkungan. Petani karet pada umumnya adalah mereka yang mengerti dan paham dalam bercocok tanam. Segala kebutuhan memberi harapan yng baik bagi lingkungan dimasa mendatang, mereka ikut menjaga lingkungan sekitar.
Ketiga, dengan peningkatan harga karet paling tidak mampu memberikan imbal balik kepada peningkatan perekonomian masyarakat di daerah.
Peningkatan tarap hidup khususnya para petani memang selayaknya perlu untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak. Selain itu juga petani karet memberikan arti penting bagi petani lain untuk terus semangat dan terus berjuang di era ekonomi sekarang yang tidak menentu. Sebagai catatan kita semua, sumber pendapatan terbesar dari masyarakat pedalaman di Kabupaten Ketapang adalah petani karet. Perjuangan mereka perlu adanya suatu pengelolaan dan kebijakan nyata yang baik, untuk sementara ini Pemerintah daerah sudah mengarah ke ranah masyarakat khususnya petani karet. Tindakan nyata Pemda adalah dengan merealisasikan bibit karet dan membatasi perkebunan sawit dan pertambangan. Semoga saja petani karet berjaya di masa mendatang. (Pit).
Photo dari : serikatpetanikaret.blogspot.com
Kamis, 23 Juni 2011
Hubungan Erat Lingkungan dan Budaya terkait Hak Masyarakat Adat
Hubungan erat antara budaya dan lingkungan adalah sangat jelas bagi masyarakat adat. Semua masyarakat adat memiliki hubungan spritual, budaya, sosial dan ekonomi dengan wilyah tradisionalnya. Hukum-hukum adat, tradisi dan praktek-praktek yang menggambarkan keterikatan atas tanah dan tanggung jawab untuk melestarikan wilayah tradisional untuk kebutuhan generasi selanjutnya. Sebagai contoh di Amerika Tengah, di lembah Amazon, Asia, Amerika Utara, Australia dan Afrika Utara, keberlangsungan hidup dan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat adat di sana tergantung pada perlindungan wilayah dan sumberdayanya.
Selama berabad-abad, hubungan antara masyarakat adat dan lingkungannya telah terkikis dengan hilangnya kepemilikan wilayah atau dipaksa pindah dari wilayah tradisional dan lokasi-lokasi penting mereka. Hak tanah, tata guna lahan dan pengelolaan sumberdaya tetap merupakan masalah-masalah kritis bagi masyarakat adat di seluruh dunia. Proyek-proyek pembangunan, penambangan, kegiatan kegiatan kehutanan dan program-program pertanian terus-menerus menyingkirkan masyarakat adat. Kerusakan lingkungan yang terjadi sangat besar: tumbuh-tumbuhan dan berbagai jenis satwa menjadi punah atau terancam punah, ekosistem-ekosistem unik telah hancur, sungai dan tangkapan air lainya telah terpolusi berat. Berbagai varietas tanaman-tanaman komersil telah menggantikan varietas-varietas lokal yang digunakan dalam sistem pertanian tradisional, yang mengakibatkan peningkatan metode pertanian industrial.
Momen penting dalam perjuangan hak-hak masyarakat adat yang terkait dengan lingkungan terlihat jelas dalam Konferensi PBB Mengenai Lingkungan dan Pembangunan (Konferensi Tingkat Tinggi Bumi atau sering disebut KTT Bumi) yang diselenggarakan di Brazil pada 1992. Sejumlah instrumen hukum disahkan dalam KTT Bumi tersebut, antara lain Deklarasi Rio, Agenda 21 dan Konvensi Keanekaragaman Hayati, yang menjadi standar hukum internasional untuk melindungi hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan dan praktek-praktek tradisional yang mereka miiliki di wilayah-wilayah pengelolaan lingkungan dan konservasi (dalam Lembar 10 Masyarakat Adat dan Lingkungan hal 1-2). Poin penting dari hasil pertemuan tersebut adalah saat ini kita memiliki kerangka hukum internasional yang mengakui hubungan khusus yang dimiliki oleh masyarakat adat dengan wilayah tradisionalnya.
Penghargaan Masyarakat Terhadap Adat dan Lingkungan
Secara jelas bahwa pemerintah harus mengakui hak-hak warisan leluhur masyarakat adat untuk menempati, memiliki dan mengelola wilayah tradisional dan teritorinya semakin bertambah banyak. Banyak negara juga telah membentuk Kementerian Lingkungan dan menyusun Pernyataan dan Strategi Strategi Kebijakan Lingkungan Skala Nasional. Meskipun beberapa pemerintah saat ini telah melakukan konsultasi dengan masyarakat adat menyangkut masalah kepemilikan tanah dan lingkungan, banyak juga pemerintah yang belum membuat peraturan hukum dan kebijakan yang memungkinkan masyarakat adat mengklaim tanah-tanah adat atau mempromosikan partisipasi masyarakat adat.
Pada tatanan masyarakat kita (khususnya di Masyarakat Dayak), hubungan erat antara lingkungan dan budaya menyngkut masyarakat adat sangat jelas terlihat, seperti misalnya pengargaan masyarakat terhadap tradisi berkaitan dengan berladang. Pada tahapan berladang ini sangat jelas terlihat bahwa adat dan tradisi begitu sangat dijunjung tinggi. Setiap memulai dan mengahkiri kegiatan selalu memakai simbol-simbol adat dan tradisi adat sebagai patokan penghargaan terhadap budaya (adat dan tradisi ) dan lingkungan.
Beberapa waktu lalu ada sebuah tulisan yang sangat menarik dari Stanislaus Riyanta yang saya baca di kompasiana (Kompas) online, tulisannya menyebutkan ; “Saya setengah iri setengah kagum dengan cara masyarakat Dayak mengelola alam dan lingkungannya. Rasa iri dan kagum ini muncul karena saya melihat bahwa masyarakat dayak terutama Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat bisa menggunakan perspektif budaya dalam mengelola alam dan lingkungannya”.
Pernyataan ini sangat beralasan sekali karena, pertama masyarakat adat sangat menghargai lingkungan dan budaya dalam kehidupan mereka sehari-hari berkaitan kebiasaan dan rutinitas. Penghargaan terhadap lingkungan (alam atau hutan) dan tentunya sangat berkaitan. Kedua, Lingkungan dan budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Dayak. Mengapa dikatakan demikian, salah satu alasan sudah barang tentu adalah peran lingkungan dan budaya sangat besar dalam kehidupan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Ketiga, Penghargaan terhadap lingkungan dan budaya terlihat dari antusias masyarakat adat yang selalu mengadakan tradisi tahunan seperti Gawai Adat Dayak, Naik Dango, Nyapat Taun’t dan banyak lagi kegiatan lainnya. Hal ini sebagai simbol penghargaan terhadap lingkungkan (alam atau hutan) dan budaya
sebagai napas dan hidup tempat berpijak. Saat ini kondisi sedikit lingkungan semakin memprihatinkan alam dan lingkungan semakin rusak, budaya semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Harapan satu-satunya adalah tinggal bagaimana kita semua, kaum muda untuk selalu menjunjung tinggi nilai budaya dan selalu tanggap. Sebelum terlambat berbuatlah sekecil apapun itu, lingkungan dan budaya akan menghargai kita apabila kita juga menghormati mereka. (P. K. Pit).
Selama berabad-abad, hubungan antara masyarakat adat dan lingkungannya telah terkikis dengan hilangnya kepemilikan wilayah atau dipaksa pindah dari wilayah tradisional dan lokasi-lokasi penting mereka. Hak tanah, tata guna lahan dan pengelolaan sumberdaya tetap merupakan masalah-masalah kritis bagi masyarakat adat di seluruh dunia. Proyek-proyek pembangunan, penambangan, kegiatan kegiatan kehutanan dan program-program pertanian terus-menerus menyingkirkan masyarakat adat. Kerusakan lingkungan yang terjadi sangat besar: tumbuh-tumbuhan dan berbagai jenis satwa menjadi punah atau terancam punah, ekosistem-ekosistem unik telah hancur, sungai dan tangkapan air lainya telah terpolusi berat. Berbagai varietas tanaman-tanaman komersil telah menggantikan varietas-varietas lokal yang digunakan dalam sistem pertanian tradisional, yang mengakibatkan peningkatan metode pertanian industrial.
Momen penting dalam perjuangan hak-hak masyarakat adat yang terkait dengan lingkungan terlihat jelas dalam Konferensi PBB Mengenai Lingkungan dan Pembangunan (Konferensi Tingkat Tinggi Bumi atau sering disebut KTT Bumi) yang diselenggarakan di Brazil pada 1992. Sejumlah instrumen hukum disahkan dalam KTT Bumi tersebut, antara lain Deklarasi Rio, Agenda 21 dan Konvensi Keanekaragaman Hayati, yang menjadi standar hukum internasional untuk melindungi hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan dan praktek-praktek tradisional yang mereka miiliki di wilayah-wilayah pengelolaan lingkungan dan konservasi (dalam Lembar 10 Masyarakat Adat dan Lingkungan hal 1-2). Poin penting dari hasil pertemuan tersebut adalah saat ini kita memiliki kerangka hukum internasional yang mengakui hubungan khusus yang dimiliki oleh masyarakat adat dengan wilayah tradisionalnya.
Penghargaan Masyarakat Terhadap Adat dan Lingkungan
Secara jelas bahwa pemerintah harus mengakui hak-hak warisan leluhur masyarakat adat untuk menempati, memiliki dan mengelola wilayah tradisional dan teritorinya semakin bertambah banyak. Banyak negara juga telah membentuk Kementerian Lingkungan dan menyusun Pernyataan dan Strategi Strategi Kebijakan Lingkungan Skala Nasional. Meskipun beberapa pemerintah saat ini telah melakukan konsultasi dengan masyarakat adat menyangkut masalah kepemilikan tanah dan lingkungan, banyak juga pemerintah yang belum membuat peraturan hukum dan kebijakan yang memungkinkan masyarakat adat mengklaim tanah-tanah adat atau mempromosikan partisipasi masyarakat adat.
Pada tatanan masyarakat kita (khususnya di Masyarakat Dayak), hubungan erat antara lingkungan dan budaya menyngkut masyarakat adat sangat jelas terlihat, seperti misalnya pengargaan masyarakat terhadap tradisi berkaitan dengan berladang. Pada tahapan berladang ini sangat jelas terlihat bahwa adat dan tradisi begitu sangat dijunjung tinggi. Setiap memulai dan mengahkiri kegiatan selalu memakai simbol-simbol adat dan tradisi adat sebagai patokan penghargaan terhadap budaya (adat dan tradisi ) dan lingkungan.
Beberapa waktu lalu ada sebuah tulisan yang sangat menarik dari Stanislaus Riyanta yang saya baca di kompasiana (Kompas) online, tulisannya menyebutkan ; “Saya setengah iri setengah kagum dengan cara masyarakat Dayak mengelola alam dan lingkungannya. Rasa iri dan kagum ini muncul karena saya melihat bahwa masyarakat dayak terutama Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat bisa menggunakan perspektif budaya dalam mengelola alam dan lingkungannya”.
Pernyataan ini sangat beralasan sekali karena, pertama masyarakat adat sangat menghargai lingkungan dan budaya dalam kehidupan mereka sehari-hari berkaitan kebiasaan dan rutinitas. Penghargaan terhadap lingkungan (alam atau hutan) dan tentunya sangat berkaitan. Kedua, Lingkungan dan budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Dayak. Mengapa dikatakan demikian, salah satu alasan sudah barang tentu adalah peran lingkungan dan budaya sangat besar dalam kehidupan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Ketiga, Penghargaan terhadap lingkungan dan budaya terlihat dari antusias masyarakat adat yang selalu mengadakan tradisi tahunan seperti Gawai Adat Dayak, Naik Dango, Nyapat Taun’t dan banyak lagi kegiatan lainnya. Hal ini sebagai simbol penghargaan terhadap lingkungkan (alam atau hutan) dan budaya
sebagai napas dan hidup tempat berpijak. Saat ini kondisi sedikit lingkungan semakin memprihatinkan alam dan lingkungan semakin rusak, budaya semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Harapan satu-satunya adalah tinggal bagaimana kita semua, kaum muda untuk selalu menjunjung tinggi nilai budaya dan selalu tanggap. Sebelum terlambat berbuatlah sekecil apapun itu, lingkungan dan budaya akan menghargai kita apabila kita juga menghormati mereka. (P. K. Pit).
Rabu, 22 Juni 2011
Kisah-Kisah Inspiratif
Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kembali semangat kita
10 ALASAN BAIK MENGAPA KITA PERLU BERDOA DENGAN TEKUN
1. Mengurangi daya stress yang ditimbulkan oleh beraneka ragam persoalan hidup yang kita alami mereka yang suka malas berdoa akan lebih mudah untuk mengalami stress
2. Menurunkan tingkat emosi atau kemarahan mereka yang lebih sering berdoa akan lebih mampu mengendalikan diri dalam hal emosi dan kemarahan mereka yang sedang mau marah dan kemudian berdoa niscaya emosinya menjadi stabil
3. Mengurangi bahkan menghilangkan rasa putus asa mereka yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan lebih untuk tidak mudah putus asa saat berada dalam kegagalan dibanding mereka yang jarang bahkan sama sekali malas berdoa
4. Meningkatkan ketegaran hati mereka yang lebih tekun berdoa akan lebih tegar menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar yang dikehendakinya bahkan peristiwa pahit sekalipun
5. Meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit-penyakit yang disebabkan gangguan psikis dengan ketekunan dalam berdoa, seseorang akan memiliki daya tahan secara fisik karena mampu untuk menghadapi dan menjalani kehidupan dengan segala peristiwanya dalam terang Kehendak Allah, sehingga tubuh tidak menjadi mudah lemah karena beban pikiran dan pekerjaan (bhs Jawa Nrimo)
6. Membuat orang menjadi lebih terbuka terhadap kelemahan dan kekurangan sesama mereka yang tekun berdoa dengan baik memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap sesamanya karena ia akan terbantu dalam doa-doanya untuk menyadari juga kelemahan-kelemahan nya sendiri
7. Meningkatkan daya cinta kasih kepada diri sendiri dan orang lain ketekunan dalam doa membuat seseorang memiliki relasi intim dengan Tuhan Allah. Allah sendiri adalah kasih maka mereka yang tekun berdoa niscaya memiliki daya cinta kasih yang lebih kepada diri sendiri dan sesamanya. Mereka yang terjerumus dalam narkoba pastilah orang yang tidak tekun berdoa karena tidak mampu mencintai dan mengasihi diri sendiri
8. Meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan diri. Seseorang yang dalam hidupnya tekun untuk berdoa akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih maksimal, karena ia akan semakin memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan dan bagaimana seharusnya dikembangkan
9. Menjadikan yang tidak baik menjadi baik setiap orang yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan untuk merubah yang tidak baik menjadi baik, dibandingkan mereka yang malas berdoa justru menjadikan yang baik menjadi buruk
10. Layak menerima keselamatan. Dengan berdoa tekun seseorang mendapatkan kesempatan untuk semakin kuat dan bahkan karena relasinya yang baik dengan Allah selagi di dunia ini ia juga akan mengalami yang sama kelak di keabadian
Oleh : Amisani K, Pr
Sumber : Kisah-kisah Inspiratif.net
10 ALASAN BAIK MENGAPA KITA PERLU BERDOA DENGAN TEKUN
1. Mengurangi daya stress yang ditimbulkan oleh beraneka ragam persoalan hidup yang kita alami mereka yang suka malas berdoa akan lebih mudah untuk mengalami stress
2. Menurunkan tingkat emosi atau kemarahan mereka yang lebih sering berdoa akan lebih mampu mengendalikan diri dalam hal emosi dan kemarahan mereka yang sedang mau marah dan kemudian berdoa niscaya emosinya menjadi stabil
3. Mengurangi bahkan menghilangkan rasa putus asa mereka yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan lebih untuk tidak mudah putus asa saat berada dalam kegagalan dibanding mereka yang jarang bahkan sama sekali malas berdoa
4. Meningkatkan ketegaran hati mereka yang lebih tekun berdoa akan lebih tegar menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar yang dikehendakinya bahkan peristiwa pahit sekalipun
5. Meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit-penyakit yang disebabkan gangguan psikis dengan ketekunan dalam berdoa, seseorang akan memiliki daya tahan secara fisik karena mampu untuk menghadapi dan menjalani kehidupan dengan segala peristiwanya dalam terang Kehendak Allah, sehingga tubuh tidak menjadi mudah lemah karena beban pikiran dan pekerjaan (bhs Jawa Nrimo)
6. Membuat orang menjadi lebih terbuka terhadap kelemahan dan kekurangan sesama mereka yang tekun berdoa dengan baik memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap sesamanya karena ia akan terbantu dalam doa-doanya untuk menyadari juga kelemahan-kelemahan nya sendiri
7. Meningkatkan daya cinta kasih kepada diri sendiri dan orang lain ketekunan dalam doa membuat seseorang memiliki relasi intim dengan Tuhan Allah. Allah sendiri adalah kasih maka mereka yang tekun berdoa niscaya memiliki daya cinta kasih yang lebih kepada diri sendiri dan sesamanya. Mereka yang terjerumus dalam narkoba pastilah orang yang tidak tekun berdoa karena tidak mampu mencintai dan mengasihi diri sendiri
8. Meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan diri. Seseorang yang dalam hidupnya tekun untuk berdoa akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih maksimal, karena ia akan semakin memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan dan bagaimana seharusnya dikembangkan
9. Menjadikan yang tidak baik menjadi baik setiap orang yang tekun berdoa akan memiliki kemampuan untuk merubah yang tidak baik menjadi baik, dibandingkan mereka yang malas berdoa justru menjadikan yang baik menjadi buruk
10. Layak menerima keselamatan. Dengan berdoa tekun seseorang mendapatkan kesempatan untuk semakin kuat dan bahkan karena relasinya yang baik dengan Allah selagi di dunia ini ia juga akan mengalami yang sama kelak di keabadian
Oleh : Amisani K, Pr
Sumber : Kisah-kisah Inspiratif.net
Merindukanmu
Detik waktu,isyaratkan namamu..
mengalir merdu,mengiringi setiap detak jantungku..
Adakah engkau tahu,betapa di sini q sangat merindukanmu..
dan berharap dirimu,juga mengalami hal yang sama seperti aku..
untaian kasih ini terlalu panjang jika ku ungkapkan..
buaian cinta ini terlalu rumit jika kuutarakan..
bersamamu sayang, segalanya terciptakan..
bersamamu sayang, kasih ini selalu tersampaikan..
raihlah rinduku dalam genggam tanganmu..
bawalah cinta yang mungkin akan menjadi hal baru dalam hidupmu..
buang egois itu, jauhkan cemburumu..
karena aku merindukanmu selalu dalam hatiku..
By : Ghalu Malhotra
mengalir merdu,mengiringi setiap detak jantungku..
Adakah engkau tahu,betapa di sini q sangat merindukanmu..
dan berharap dirimu,juga mengalami hal yang sama seperti aku..
untaian kasih ini terlalu panjang jika ku ungkapkan..
buaian cinta ini terlalu rumit jika kuutarakan..
bersamamu sayang, segalanya terciptakan..
bersamamu sayang, kasih ini selalu tersampaikan..
raihlah rinduku dalam genggam tanganmu..
bawalah cinta yang mungkin akan menjadi hal baru dalam hidupmu..
buang egois itu, jauhkan cemburumu..
karena aku merindukanmu selalu dalam hatiku..
By : Ghalu Malhotra
Sampaikan Syukur Dengan Ritual Adat
Citizen Reporter
Senin, 6 Juni 2011 21:18 WIB
Oleh : Petrus Kanisius Pit
Pada tanggal 4-5 Juni 2011, di Desa Laman Satong, kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) diadakan Kegiatan adat nyapat Taun’t (Nyelepit Taun’t) oleh masyarakat setempat.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan rutin masyarakat yang dilakukan pada saat memulai dan mengakhiri masa panen.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat sebagai ungkapan syukur atas panen yang mereka peroleh dan rencana untuk berladang pada tahun berikutnya.
Seluruh masyarakat secara secara kompak untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk kegiatan. Seperti misalnya setiap kepala keluarga atau rumah menyiapkan lemang (beras ketan yang di masak dalam buluh/ bambu) yang nantinya di bawa ke rumah adat. Segala keperluan adat di siapkan secara bersama-sama oleh masyarakat.
Kegiatan Nyapat Taun’t ini di gelar oleh masyarakat di rumah adat Laman Satong di Dusun Manjau di mulai pukul 07.00-23.00 wib, selanjutnya dilanjutkan pada keesokan harinya. Pada malam harinya masyarakat berkumpul di rumah adat untuk menerangkan adat-adat nyelepit taun’t.
Kegiatan ini dimulai dengan ditandai oleh berkumpulnya para demong adat, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat untuk berkumpul dan makan bersama, selanjutnya para demong adat menerangkan adat nyapat taun’t sersebut dan menjelaskan maksud diadakan kegiatan ini.
Seperti terlihat dalam acara ini, berbagai kegiatan seperti adat seperti minum tuak di dalam tempayan, tuak dimasukkan kedalam tempayan yang sudah disiapkan.
Tempayan tersebut diberi pipa dari bambu sebagai sedotan minuman di dalam tempayan tersebut. Berbagai sesajian di siapkan untuk sang Duata berupa beras ketan dan beras bisa yang dimasak, lemang (beras ketan/pulut) yang dimasak di bambu dan sesajian lainnya seperti Kapur sirih, pinang dan rokok.
Menurut Yohanes Terang, satu tokoh masyarakat Manjau menjelaskan kegiatan tersebut rutin dilakukan sebagai ungkapan syukur atas panen tahun lalu dan rencana untuk berladang selanjutnya.
Kegiatan ini juga sebagai bentuk peduli masyarakat pada Sang Duata (Pencipta/ Tuhan), terhadap adat dan tradisi serta peduli dengan lingkungan sekitar . lebih lanjut beliau menegaskan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian seluruh masyarakat untuk selalu bersyukur untuk selalu dilaksanakan.
Sebagai undangan dalam kegiatan ini Yayasan Palung berkesempatan untuk merekam dan mendokumentasikan kegiatan berdasarkan permintaan masyarakat.
Untuk meramaikan acara Yayasan Palung diberi kesempatan untuk memutar film lingkungan di Manjau pada tanggal 30-31 Mei 2011. Pemutaran film dilakukan oleh Bedu Nugroho dan Tito Indrawan (Manager PPS Hukum Yayasan Palung).
Selanjutnya pada tanggal 4-5 Juni 2011 kembali dilaksanakan pemutaran film lingkungan dan film hiburan, dari Yayasan Palung yang hadir dalam acara adat Agus Lebam, Petrus Kanisius, F. Wendy Tamariska dan Relawan Bentangor Yayasan Palung ( Reno dan Andi RebonK).
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tokoh masyarakat Manjau, tamu undangan dan pejabat pemerintah. Acara ini berakhir sore Minggu dengan ditandai dengan menari bersama dengan diiringi musik dan tabuhan gendang dan gamalan sebagai penutup rangkaian acara.
Penulis : Pionerson Ucok Situmorang
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
Senin, 6 Juni 2011 21:18 WIB
Oleh : Petrus Kanisius Pit
Pada tanggal 4-5 Juni 2011, di Desa Laman Satong, kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) diadakan Kegiatan adat nyapat Taun’t (Nyelepit Taun’t) oleh masyarakat setempat.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan rutin masyarakat yang dilakukan pada saat memulai dan mengakhiri masa panen.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat sebagai ungkapan syukur atas panen yang mereka peroleh dan rencana untuk berladang pada tahun berikutnya.
Seluruh masyarakat secara secara kompak untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk kegiatan. Seperti misalnya setiap kepala keluarga atau rumah menyiapkan lemang (beras ketan yang di masak dalam buluh/ bambu) yang nantinya di bawa ke rumah adat. Segala keperluan adat di siapkan secara bersama-sama oleh masyarakat.
Kegiatan Nyapat Taun’t ini di gelar oleh masyarakat di rumah adat Laman Satong di Dusun Manjau di mulai pukul 07.00-23.00 wib, selanjutnya dilanjutkan pada keesokan harinya. Pada malam harinya masyarakat berkumpul di rumah adat untuk menerangkan adat-adat nyelepit taun’t.
Kegiatan ini dimulai dengan ditandai oleh berkumpulnya para demong adat, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat untuk berkumpul dan makan bersama, selanjutnya para demong adat menerangkan adat nyapat taun’t sersebut dan menjelaskan maksud diadakan kegiatan ini.
Seperti terlihat dalam acara ini, berbagai kegiatan seperti adat seperti minum tuak di dalam tempayan, tuak dimasukkan kedalam tempayan yang sudah disiapkan.
Tempayan tersebut diberi pipa dari bambu sebagai sedotan minuman di dalam tempayan tersebut. Berbagai sesajian di siapkan untuk sang Duata berupa beras ketan dan beras bisa yang dimasak, lemang (beras ketan/pulut) yang dimasak di bambu dan sesajian lainnya seperti Kapur sirih, pinang dan rokok.
Menurut Yohanes Terang, satu tokoh masyarakat Manjau menjelaskan kegiatan tersebut rutin dilakukan sebagai ungkapan syukur atas panen tahun lalu dan rencana untuk berladang selanjutnya.
Kegiatan ini juga sebagai bentuk peduli masyarakat pada Sang Duata (Pencipta/ Tuhan), terhadap adat dan tradisi serta peduli dengan lingkungan sekitar . lebih lanjut beliau menegaskan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian seluruh masyarakat untuk selalu bersyukur untuk selalu dilaksanakan.
Sebagai undangan dalam kegiatan ini Yayasan Palung berkesempatan untuk merekam dan mendokumentasikan kegiatan berdasarkan permintaan masyarakat.
Untuk meramaikan acara Yayasan Palung diberi kesempatan untuk memutar film lingkungan di Manjau pada tanggal 30-31 Mei 2011. Pemutaran film dilakukan oleh Bedu Nugroho dan Tito Indrawan (Manager PPS Hukum Yayasan Palung).
Selanjutnya pada tanggal 4-5 Juni 2011 kembali dilaksanakan pemutaran film lingkungan dan film hiburan, dari Yayasan Palung yang hadir dalam acara adat Agus Lebam, Petrus Kanisius, F. Wendy Tamariska dan Relawan Bentangor Yayasan Palung ( Reno dan Andi RebonK).
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tokoh masyarakat Manjau, tamu undangan dan pejabat pemerintah. Acara ini berakhir sore Minggu dengan ditandai dengan menari bersama dengan diiringi musik dan tabuhan gendang dan gamalan sebagai penutup rangkaian acara.
Penulis : Pionerson Ucok Situmorang
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
Yayasan Palung Audiensi dengan Bupati
Citizen Reporter
Senin, 20 Juni 2011 19:20 WIB
Petrus Kanisius Pit
Aktivis Yayasan Palung
Tanggal 20 Juni 2011, Yayasan Palung dan sejumlah Ngo mengadakan Audiensi, bertempat di ruang rapat Bupati. Audiensi dengan tema: Upaya Penegakan Hukum dan Perlindungan Satwa.
Tujuan dari kegiatan ini dengan harapan Ngo-Ngo bersama-sama Pemda dan dinas terkait untuk bekerjasama dalam proses penegakan hukum terkait banyaknya ancaman terhadap satwa dilindungi.
Selama tiga jam setengah berdiskusi dengan Bapak Drs. Hendrikus, M.Si. , banyak hal yang di bahas. Dalam kata sambutannya bupati berterima kasih kepada Yayasan Palung dan semua Ngo untuk mengadakan audiensi ini. Pada pertemuan ini semua Ngo berkesempatan untuk memaparkan dan mengusulkan terkait regulasi tentang kawasan konservasi, harapannya ada kerjasama dan dukungan dari pemerintah.
Ada tujuh (7) usulan dari semua Lembaga Swadaya Masyarakat yang tergabung, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, dari tahun 2007 sampai sekarang belum ada penegakan hukum terkait perdagangan, pemiliharaan dan pembunuhan terhadap satwa dilindungi di Kabupaten Ketapang.
Mengingat dari data Yayasan Palung sebanyak 215 pemiliharaan, hanya 90 satwa yang ditindak lanjuti itu pun hanya terbatas pada satwanya saja.
Kedua, mengharapkan kepada Pemerintah daerah untuk melasanakan pembangunan yang berbasis pada keadilan dan kelestrian lingkungan berkelanjutan.
Tiga, mengusulkan kepada pemerintah untuk tidak mengeluarkan ijin baru pembukaan lahan. Empat, Mengarapkan produk hukum; hal ini menyangkut poin (1) tentang penegakan hukum.
Lima, adanya dukungan dana dari Pemerintah; pendanaan ini dimaksudkan bagi rehabilitasi dan pelepasan satwa dilindungi dari kandang transit, mengingat saat ini belum ada Orangutan yang direhabilitasi kembali ke habitat aslinya.
Saat ini ada 38 ekor Orangutan di kandang transit (data IAR). IAR sudah menyiapkan lokasi di Gunung Tarak dan lahan di Sungai Awan (masih terkendala ijin) untuk pelepasan Orangutan.
Enam, adanya produk hukum tentang RTRWK menyangkut tata kelola dan tata ruang, dan tujuh mengajak perusahaan-perusahan (pertambangan dan perkebunan) untuk melakukan pengelolaan berdasarkan konsesi, perusahaan diwajibkan menyiapkan lahan untuk konservasi.
Ketujuh butir usulan tersebut mendapat sambutan baik dari bapak Bupati. Menurut beliau semua (Pemerintah dan Ngo-Ngo)harus berperan untuk membangun kabupaten Ketapang melalui sosialisasi (melalui pendampingan, penyadaran kepada masyrakat melalui Audio visual, misalnya pemutaran film lingkungan dan satwa) dan koordinasi tentang hal ini.
Selain itu juga, secara khusus untuk lahan gambut hanya di perbolehkan untuk tanaman padi saja. Lebih lanjut Bapak Hendrikus menyatakan bahwa saat ini ada 1000 hektar Kawasan Nilai Konservasi Tinggi (KNKT) di Sungai Tengar dan menyiapkan 31 juta Hektar di pulau Sawi dan pulau Bawal. Tidak kalah pentingnya bupati menegaskan adanya Moratorium (penundaan/penangguhan ijin) bagi Perusahaan-perusahaan yang ada jika di kemudian hari melanggar ketentuan-ketentuan yang ada.
Kerjasama semua pihak merupakan salah satu harapan terbaik dari bapak bupati, beliau juga menginginkan adanya kesinambungan dari audiensi ini dan terus menerus untuk bersama mengadakan audiensi di kesempatan lainnya.
Bupati ketapang menegaskan tidak akan memberikan ijin lagi untuk pembukaan lahan. Jika ada, itu hanya untuk perkebunan gula dan jagung saja. Adapun yang hadir dalam acara Audiensi ini adalah Yayasan Palung, Yayasan Warisan, IAR, FFI, KKK(K3), Dinas Kehutanan dan dari media cetak yang ada. Kegiatan ini dimulai dari pukul 09.00 dan berakhir pukul 11.30 wib.
Pertemuan ini sebagai langkah untuk bagaimana menghargai lingkungan dan membangun Ketapang secara bersama-sama dan berkelanjutan harap bupati.
Penulis : Pionerson Ucok Situmorang
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
Senin, 20 Juni 2011 19:20 WIB
Petrus Kanisius Pit
Aktivis Yayasan Palung
Tanggal 20 Juni 2011, Yayasan Palung dan sejumlah Ngo mengadakan Audiensi, bertempat di ruang rapat Bupati. Audiensi dengan tema: Upaya Penegakan Hukum dan Perlindungan Satwa.
Tujuan dari kegiatan ini dengan harapan Ngo-Ngo bersama-sama Pemda dan dinas terkait untuk bekerjasama dalam proses penegakan hukum terkait banyaknya ancaman terhadap satwa dilindungi.
Selama tiga jam setengah berdiskusi dengan Bapak Drs. Hendrikus, M.Si. , banyak hal yang di bahas. Dalam kata sambutannya bupati berterima kasih kepada Yayasan Palung dan semua Ngo untuk mengadakan audiensi ini. Pada pertemuan ini semua Ngo berkesempatan untuk memaparkan dan mengusulkan terkait regulasi tentang kawasan konservasi, harapannya ada kerjasama dan dukungan dari pemerintah.
Ada tujuh (7) usulan dari semua Lembaga Swadaya Masyarakat yang tergabung, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, dari tahun 2007 sampai sekarang belum ada penegakan hukum terkait perdagangan, pemiliharaan dan pembunuhan terhadap satwa dilindungi di Kabupaten Ketapang.
Mengingat dari data Yayasan Palung sebanyak 215 pemiliharaan, hanya 90 satwa yang ditindak lanjuti itu pun hanya terbatas pada satwanya saja.
Kedua, mengharapkan kepada Pemerintah daerah untuk melasanakan pembangunan yang berbasis pada keadilan dan kelestrian lingkungan berkelanjutan.
Tiga, mengusulkan kepada pemerintah untuk tidak mengeluarkan ijin baru pembukaan lahan. Empat, Mengarapkan produk hukum; hal ini menyangkut poin (1) tentang penegakan hukum.
Lima, adanya dukungan dana dari Pemerintah; pendanaan ini dimaksudkan bagi rehabilitasi dan pelepasan satwa dilindungi dari kandang transit, mengingat saat ini belum ada Orangutan yang direhabilitasi kembali ke habitat aslinya.
Saat ini ada 38 ekor Orangutan di kandang transit (data IAR). IAR sudah menyiapkan lokasi di Gunung Tarak dan lahan di Sungai Awan (masih terkendala ijin) untuk pelepasan Orangutan.
Enam, adanya produk hukum tentang RTRWK menyangkut tata kelola dan tata ruang, dan tujuh mengajak perusahaan-perusahan (pertambangan dan perkebunan) untuk melakukan pengelolaan berdasarkan konsesi, perusahaan diwajibkan menyiapkan lahan untuk konservasi.
Ketujuh butir usulan tersebut mendapat sambutan baik dari bapak Bupati. Menurut beliau semua (Pemerintah dan Ngo-Ngo)harus berperan untuk membangun kabupaten Ketapang melalui sosialisasi (melalui pendampingan, penyadaran kepada masyrakat melalui Audio visual, misalnya pemutaran film lingkungan dan satwa) dan koordinasi tentang hal ini.
Selain itu juga, secara khusus untuk lahan gambut hanya di perbolehkan untuk tanaman padi saja. Lebih lanjut Bapak Hendrikus menyatakan bahwa saat ini ada 1000 hektar Kawasan Nilai Konservasi Tinggi (KNKT) di Sungai Tengar dan menyiapkan 31 juta Hektar di pulau Sawi dan pulau Bawal. Tidak kalah pentingnya bupati menegaskan adanya Moratorium (penundaan/penangguhan ijin) bagi Perusahaan-perusahaan yang ada jika di kemudian hari melanggar ketentuan-ketentuan yang ada.
Kerjasama semua pihak merupakan salah satu harapan terbaik dari bapak bupati, beliau juga menginginkan adanya kesinambungan dari audiensi ini dan terus menerus untuk bersama mengadakan audiensi di kesempatan lainnya.
Bupati ketapang menegaskan tidak akan memberikan ijin lagi untuk pembukaan lahan. Jika ada, itu hanya untuk perkebunan gula dan jagung saja. Adapun yang hadir dalam acara Audiensi ini adalah Yayasan Palung, Yayasan Warisan, IAR, FFI, KKK(K3), Dinas Kehutanan dan dari media cetak yang ada. Kegiatan ini dimulai dari pukul 09.00 dan berakhir pukul 11.30 wib.
Pertemuan ini sebagai langkah untuk bagaimana menghargai lingkungan dan membangun Ketapang secara bersama-sama dan berkelanjutan harap bupati.
Penulis : Pionerson Ucok Situmorang
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
Selasa, 21 Juni 2011
Perjalanan Hidup Menyusuri Waktu

Melihat eloknya sang surya dan alam semesta memberi seribu makna dalam hidup, Kehidupan dan hidup kita di dunia. Semangat diantara kebebasan, keterbatasan, tanggungjawab, harga diri, harapan, impian dan kasih seakan menjadi bukti nyata hidup. Mana kala hidup ini tidak tinggal diam dan berusaha untuk selalu semangat dan berjuang. Anugerah terindah yang diberikan memberi arti tiada tara, sahabat, teman, orang-orang terdekat, orang tua dan orang yang selalu dihati menjadi sumber semangat yang begitu berarti.
Hidup memang penuh dengan tantangan dan cobaan, akan tetapi harapan dan semangat harus selalu menggelora di hati. Selangkah atau sekali menyusuri, memberi keinginan untuk terus mencoba. Bahkan mungkin saja seribu bahkan berjuta-juta makna dan harapan yang didapat. Segala sesuatunya mungkin terjadi,dengan patokan keinginan dan kemauan kuat. Kasih dari Yang Kuasa, Orang lain, sahabat dan orang terdekat begitu besar, tidak terbalaskan oleh apapun. Namun terkadang kita selalu lupa untuk bersyukur dan cenderung congkak dan egois terhadap diri. Tetapi semuanya itu adalah pelajaran hidup untuk mengarungi perjalanan panjang sang waktu.
Segala sesuatu itu baik dan idah adanya, senyuman dan tangis menjadi tanda perjuangan untuk selalu mendengungkan dan mencari arti dan makna Kehidupan. Setiap detik waktu dan sejengkal pengalaman memberi mimpi akan perbuatan yang kita laksanakan sebagai langkah dan kemauan nyata, tanpa paksaan dan dokma. Keiklasan untuk berbuat sebagai pemicu untuk selalu melangkah walau diterba dan didera oleh kerikil-kerikil dan ombak bahkan badai. Keindahan, kebaikan, cinta, damai, kemaun dan harap serta semuanya adalah doa dikala kita mau mencoba.
Setiap ilmu, pengalaman, doa dan kasih adalah rejeki dari Yang Kuasa manakala hidup selalu bersyukur. Perjalanan hidup setip orang terkadang memang tidak bisa ditebak, ada baik ada buruk, ada suka ada duka, ada sehat ada sakit, ada kaya ada miskin, ada dusta dan ada kebenaran, ada cinta ada kerinduan. Semua ini sebagai pelengkap hidup, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna apabila satu dengan yang lainnya tidak saling melengkapi.
Segala harap dan berkat akan tumbuh dan menjadi nyata apabila satu sama lainnya memahami, mengerti dan menerima apa adanya. Cinta, rindu dan kasih sayang, persahabatan adalah perjalanan hidup menyusuri waktu. Perbuatlah sesuatu selagi mampu berbuat, hidup memang indah dan sangat berarti, berkat dari Tuhan adalah kekuatan dikala kita tidak berdaya dan menyerah. Gelorakan semangatmu sebagai langkah pasti akan segala sesuatu yang akan dikerjakan, semangatku adalah jiwaku, belajar dan mencoba untuk mengerti tentang hidup.(Pit).
foto : internet.
Langganan:
Postingan (Atom)