Setiap Detik,
setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan setiap
tahun kita masih diberi nafas hidup/kehidupan oleh sang pencipta. Banyak hal
yang dirasakan sebagai bumbu, warna-warni hidup. Suka duka, susah senang,
capaian, kebencian, kebohongan, keserakahan, peperangan dan damai. pengaharapan
dan kebersamaan tanpa membedakan merupakan satu kesatuan untaian perjalan hidup.
Berjuta makna dan warna yang terjadi dalam setiap nafas dan perjalanan hidup.
Sang Pencipta
memberikan gambaran dan ajaran kepada kita untuk saling menerima, mengajarkan
hidup untuk saling berdampingan tanpa membedakan warna dan asal usul termasuk
menghargai bumi dan segala isinya. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah
sudahkah kita menjalankannya???. Pertanyaan yang di lontarkan tentunya sangat
berkaitan dengan realita saat ini. Terciptanya hidup yang harmonis saat ini
sudah selayaknya kita berbangga, namun masih ada juga jurang pembatas antara
satu dengan yang lainnya, banyak contoh kasus yang mungkin bisa dijadikan pembanding.
Penghargaan terhadap bumi sebagai ibu dalam kehidupan semakin hari kian
memprihatinkan. Bumi semakin merintih dan mengerang kesakitan, sedangkan
manusia terbahak kegirangan padahal sama menderita. Perlu untuk diingat jika
masih belum lupa, bumi sakit hak kita dan semua manusia untuk merawat. Bumi
akan menghargai manusia, demikian juga sebaliknya.
Sang pemberi
hidup memberikan akal budi bagi kita untuk menjalankan sebagai sumber kasih dalam
tindakan dan perbuatan. Suka cita, diperoleh dari perbuatan nyata terhadap diri
dan sesama serta semua. Sumber kasih dalam tindakan dan perbuatan. Akal budi
atau akal pikiran manusia bisa memberi sumber suka cita, pengharapan dan
perbuatan, dengan demikian pula akal budi/akal pikiran manusia bisa memberi malu
dan sumber malapetaka serta sengsara. Untaian kasih dan jeritan tangis dua hal
yang dapat dikatakan berdampingan dalam hidup. Suka cita bila manusia berusaha
menjalankan hidupnya dengan penuh ketulusan untuk berperilaku terhadap sesama
dan semua. Sedangkan jeritan tangis sebagai noda dalam roda hidup. Namun
untaian kasih dan jeritan hati sering membukakan mata dan telinga berusaha
bangkit atau bahkan terperosok lebih dalam lagi. Ungkapan kasih yang murni
terkadang sering terabaikan, sedangkan untaian dusta sering menggelora atas
dasar pembelaan dan pembenaran di muka bumi ini.
Demikian juga
susah senang, duka didapat atau diperoleh sebagai tindakan perbuatan yang dapat
dikatakan hukum sebab akibat. Capaian,
pengharapan dan kebersamaan tanpa membedakan sebagai muatan hakikat yang
semestinya di laksanakan dan di raih atas dasar keja keras dalam setiap hal
yang dikerjakan dalam hidup. Kebencian, kebohongan, keserakahan dan peperangan salah
satu dari akar persoalan hidup saat ini. Kehidupan dengan beraneka aroma bumbu serta
merta memberi dorongan kepada sesama dan semua untuk tergerak dan memberontak.
Tidak jarang semua akar berupa susah senang, suka duka, kebencian, kebohongan
dan keserakahan mampu menjadi dewa dan dogma bagi hidup dalam setiap perjalanan
yang dilalui. Arus deras sumber kebaikan, kasih, kesederhanaan sering juga
menjadi caci maki dan cemoohan.
Setiap
hembusan nafas hidup sudah barang tentu sebagai anugerah terindah yang
diberikan oleh sang Pencipta. Nafas hidup atas dasar kesempatan untuk mampu
bertahan dalam situasi saat ini yang semakin sulit dan kompleks. Ibarat
pepatah, siapa yang mampu mengalah dan mengalahkan bisa sama-sama menjadi
sebagai pemenang. Akan tetapi, mengalah
dan mengalahkan dua hal yang mampu menjadi boomerang bagi siapa saja.
Buatlah hidup ini untuk bisa untuk selalu
bersyukur dengan segala keadaan. Buatlah hidup menjadi apa adanya dan indah
bagi semua dan sesama tanpa benci, tanpa basa basi, tanpa imbalan, tanpa derai
air mata, tanpa kebohongan, tanpa keserakahan, tanpa perbedaan, tanpa
peperangan, tanpa derita dan sengsara. Ciptakan dunia ini dengan dipenuhi
kasih, suka cita dan damai tanpa batas dan tersenyum berseri sepanjang segala
abad. Amin…. Semoga….
@ 7 Jan 2013 Petrus Kanisius “Pit”- Ketapang,
Kalbar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar