Minggu, 06 Januari 2013

Nafas Hidup Untaian Perjalan Hidup



Nafasku, foto doc. yadie82.multiply.com

Setiap Detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun kita masih diberi nafas hidup/kehidupan oleh sang pencipta. Banyak hal yang dirasakan sebagai bumbu, warna-warni hidup. Suka duka, susah senang, capaian, kebencian, kebohongan, keserakahan, peperangan dan damai. pengaharapan dan kebersamaan tanpa membedakan merupakan satu kesatuan untaian perjalan hidup. Berjuta makna dan warna yang terjadi dalam setiap nafas dan perjalanan hidup. 

Sang Pencipta memberikan gambaran dan ajaran kepada kita untuk saling menerima, mengajarkan hidup untuk saling berdampingan tanpa membedakan warna dan asal usul termasuk menghargai bumi dan segala isinya. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah kita menjalankannya???. Pertanyaan yang di lontarkan tentunya sangat berkaitan dengan realita saat ini. Terciptanya hidup yang harmonis saat ini sudah selayaknya kita berbangga, namun masih ada juga jurang pembatas antara satu dengan yang lainnya, banyak contoh kasus yang mungkin bisa dijadikan pembanding. Penghargaan terhadap bumi sebagai ibu dalam kehidupan semakin hari kian memprihatinkan. Bumi semakin merintih dan mengerang kesakitan, sedangkan manusia terbahak kegirangan padahal sama menderita. Perlu untuk diingat jika masih belum lupa, bumi sakit hak kita dan semua manusia untuk merawat. Bumi akan menghargai manusia, demikian juga sebaliknya.  

Sang pemberi hidup memberikan akal budi bagi  kita untuk menjalankan sebagai sumber kasih dalam tindakan dan perbuatan. Suka cita, diperoleh dari perbuatan nyata terhadap diri dan sesama serta semua. Sumber kasih dalam tindakan dan perbuatan. Akal budi atau akal pikiran manusia bisa memberi sumber suka cita, pengharapan dan perbuatan, dengan demikian pula akal budi/akal pikiran manusia bisa memberi malu dan sumber malapetaka serta sengsara. Untaian kasih dan jeritan tangis dua hal yang dapat dikatakan berdampingan dalam hidup. Suka cita bila manusia berusaha menjalankan hidupnya dengan penuh ketulusan untuk berperilaku terhadap sesama dan semua. Sedangkan jeritan tangis sebagai noda dalam roda hidup. Namun untaian kasih dan jeritan hati sering membukakan mata dan telinga berusaha bangkit atau bahkan terperosok lebih dalam lagi. Ungkapan kasih yang murni terkadang sering terabaikan, sedangkan untaian dusta sering menggelora atas dasar pembelaan dan pembenaran di muka bumi ini.

Demikian juga susah senang, duka didapat atau diperoleh sebagai tindakan perbuatan yang dapat dikatakan hukum sebab akibat.  Capaian, pengharapan dan kebersamaan tanpa membedakan sebagai muatan hakikat yang semestinya di laksanakan dan di raih atas dasar keja keras dalam setiap hal yang dikerjakan dalam hidup. Kebencian, kebohongan, keserakahan dan peperangan salah satu dari akar persoalan hidup saat ini.  Kehidupan dengan beraneka aroma bumbu serta merta memberi dorongan kepada sesama dan semua untuk tergerak dan memberontak. Tidak jarang semua akar berupa susah senang, suka duka, kebencian, kebohongan dan keserakahan mampu menjadi dewa dan dogma bagi hidup dalam setiap perjalanan yang dilalui. Arus deras sumber kebaikan, kasih, kesederhanaan sering juga menjadi caci maki dan cemoohan.   

Setiap hembusan nafas hidup sudah barang tentu sebagai anugerah terindah yang diberikan oleh sang Pencipta. Nafas hidup atas dasar kesempatan untuk mampu bertahan dalam situasi saat ini yang semakin sulit dan kompleks. Ibarat pepatah, siapa yang mampu mengalah dan mengalahkan bisa sama-sama menjadi sebagai pemenang.  Akan tetapi, mengalah dan mengalahkan dua hal yang mampu menjadi boomerang bagi siapa saja.

 Buatlah hidup ini untuk bisa untuk selalu bersyukur dengan segala keadaan. Buatlah hidup menjadi apa adanya dan indah bagi semua dan sesama tanpa benci, tanpa basa basi, tanpa imbalan, tanpa derai air mata, tanpa kebohongan, tanpa keserakahan, tanpa perbedaan, tanpa peperangan, tanpa derita dan sengsara. Ciptakan dunia ini dengan dipenuhi kasih, suka cita dan damai tanpa batas dan tersenyum berseri sepanjang segala abad. Amin…. Semoga….

@  7 Jan 2013 Petrus Kanisius “Pit”- Ketapang, Kalbar  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar