Kamis, 06 Desember 2012

Berhentilah untuk........



Sambungan dari Berhentilah untuk I : Berhentilah untuk........

Bagian  II :
Hidup dalam perjalanan hidup atau menjalani hidup sering kali mengalami cobaan, seringkali kita mengeluh dengan keadaan. Berhentilah untuk menangisi keadaan. Buatlah rangkaian cobaan itu sebagai sebuah kekuatan untuk maju dan terus melangkah.
Tangis, derita, kecewa dan perih yang dirasakan sebagai ungkapan ketidakmampuan atau kekesalan akan suatu persoalan seringkali mendera hidup ini. Setiap persoalan dalam hidup ini tidak kunjung usai mendera, namun kita diajarkan untuk terus bersabar dengan keadaan/persoaalan yang mendera. Berhentilah bersedih. Buatlah diri kuat untuk menghadapi segala perkara. Setiap perkara sebagai sumber kekuatan untuk menjadikan hidup lebih berarti.
Sebuah janji dalam hidup / menjalani hidup sebagai tanda perbuatan hidup atau kehidupan yang harus dijalankan untuk ditepati. Sebuah janji dapat dikatakan sebagai komitmen. Berhentilah untuk berjanji bila tidak bisa memenuhi janji. Sebuah janji sesungguhnya merupakan hutang.
Kekuatan akan pikiran dan perbuatan bisa mempengaruhi hidup ini terutama diri. Kekuatan pikiran dan perbuatan tidak terlepas dari hal positif dan negatif selalu beriringan dalam hidup ini. Hidup / kehidupan manusia sering di hadapkan dengan dua hal ini. Berhentilah untuk berpikiran negatif. Pikiran dan perbuatan negatif ibarat mata pisau.    
Seringkali kita dalam hidup ini membanggakan diri atau sombong yang berlebihan terhadap orang lain tentang capaian / keberhasilan, kekuasaan dan kekayaan. Tuhan menciptakan manusia untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Sering kali kita tidak mengganggap orang kecil / tidak berdaya / orang kurang dari segi kecukupan materi dan lain sebagainya. Berhentilah untuk  sombong dan keras kepala. Kita hidup diajarkan utntuk saling berdampingan, bersama dan melengkapi.
Hidup di bumi ini hanya sesaat, kapan dan dimana kita tidak mengetahui akhir dari hidup atau kehidupan ini. Buatlah hidup itu apa adanya mengalir seperti air,  tanpa memaksa /paksaan dan menyesali. Sesunggunya hidup ini sumber anugerah.
@ Sebuah Perenungan Siang; Pit, Ketapang, Kalbar 07/12/12.
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar