Sambungan dari Berhentilah untuk I : Berhentilah
untuk........
Bagian II :
Hidup dalam perjalanan hidup atau
menjalani hidup sering kali mengalami cobaan, seringkali kita mengeluh dengan
keadaan. Berhentilah untuk menangisi keadaan. Buatlah rangkaian cobaan
itu sebagai sebuah kekuatan untuk maju dan terus melangkah.
Tangis, derita, kecewa dan perih
yang dirasakan sebagai ungkapan ketidakmampuan atau kekesalan akan suatu
persoalan seringkali mendera hidup ini. Setiap persoalan dalam hidup ini tidak
kunjung usai mendera, namun kita diajarkan untuk terus bersabar dengan keadaan/persoaalan
yang mendera. Berhentilah bersedih. Buatlah diri kuat untuk menghadapi
segala perkara. Setiap perkara sebagai sumber kekuatan untuk menjadikan hidup
lebih berarti.
Sebuah janji dalam hidup /
menjalani hidup sebagai tanda perbuatan hidup atau kehidupan yang harus
dijalankan untuk ditepati. Sebuah janji dapat dikatakan sebagai komitmen. Berhentilah
untuk berjanji bila tidak bisa memenuhi janji. Sebuah janji sesungguhnya
merupakan hutang.
Kekuatan akan pikiran dan
perbuatan bisa mempengaruhi hidup ini terutama diri. Kekuatan pikiran dan
perbuatan tidak terlepas dari hal positif dan negatif selalu beriringan dalam
hidup ini. Hidup / kehidupan manusia sering di hadapkan dengan dua hal ini. Berhentilah
untuk berpikiran negatif. Pikiran dan perbuatan negatif ibarat mata pisau.
Seringkali kita dalam hidup ini
membanggakan diri atau sombong yang berlebihan terhadap orang lain tentang
capaian / keberhasilan, kekuasaan dan kekayaan. Tuhan menciptakan manusia untuk
saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Sering kali kita tidak mengganggap
orang kecil / tidak berdaya / orang kurang dari segi kecukupan materi dan lain
sebagainya. Berhentilah untuk sombong
dan keras kepala. Kita hidup diajarkan utntuk saling berdampingan, bersama
dan melengkapi.
Hidup di
bumi ini hanya sesaat, kapan dan dimana kita tidak mengetahui akhir dari hidup
atau kehidupan ini. Buatlah hidup itu apa adanya mengalir seperti air, tanpa memaksa /paksaan dan menyesali.
Sesunggunya hidup ini sumber anugerah.
@ Sebuah
Perenungan Siang; Pit, Ketapang, Kalbar 07/12/12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar