Bagian I :
Hidup
dan perjalanan hidup manusia selalu diwarnai dengan bumbu-bumbu,
warna-warni dan dipenuhi dengan berbagai dinamika dan logika yang real
terjadi.
Perjalanan
hidup dipenuhi dengan teka-teki yang sulit untuk dilalui, diketahui dan
diprediksi. Demikian pula degan hidup ini dalam menjalani hidup,
terkadang hidup selalu ingin sesuai dengan kemauan dan keinginan. Namun
tidak semuanya dapat dikatakan sebagai sebuah ketakutan. Berhentilah untuk takut, bangkit dan mencobalah dan terus mencobalah.
Realita
tentang hidup memang sulit untuk dimengerti, dipahami dan dirasakan.
Proses hidup memang sangat membutuhkan kesabaran, pengertian dan harus
bisa menerima apa adanya tanpa ada dusta dan air mata. Berhentilah untuk menyesali, berubahlah kearah yang lebih baik dan belajarlah dari kesalahan.
Kehidupan
sejatinya menerima segala persoalan sebagai tantangan untuk meraih dan
mendapatkan apa yang ingin dirasakan. Sumber hidup dalam kehidupan pada
kenyataan adalah menerima kenyataan dan takut akan kenyataan. Berhentilah mengeluh, kuatkan sumber persoalan sebagai sumber penyemangat dan hidup merupakan sumber berkat dan anugerah dari Yang Kuasa.
Sumber
kasih atau cinta dalam hidup adalah perbuatan. Perbuatan yang selalu
diperoleh, dipupuk dan didapatkan dengan saling terbuka, apa adanya
dengan sesama dan semua. Kasih terkadang beriringan dan kasih diperoleh
dengan suka dan duka hidup. Tidak semua kasih dapat di raih dan tidak
semua kasih dapat diterima. Berhentilah menangisi kasih/cinta bila tak sampai, buatlah kasih/ cinta untuk semua dan sesama tanpa mengharapkan imbalan.
Satu kejujuran dalam hidup sangat dibutuhkan. Kejujuran menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan. Berhentilah berbohong/berdusta.
Berbohong ataupun sikap tidak jujur hanya akan membuat hidup penuh
dengan kemunafikan dan membuat hidup selalu cemas dan tidak tenang.
Sumber
maaf/ menyesali semua kesalahan dan dosa terhadap Tuhan serta sesama
merupakan sikap atau perbuatan untuk selalu memperbaiki situasi atau
keadaan. Berhentilah dendam/memusuhi sesama. Belajarlah untuk saling menerima dan saling memaafkan.
Kehidupan atau hidup kita semua manusia di dunia ini hanya sementara, tidak ada yang sempurna dan kekal didunia ini. Berhentilah untuk membedakan/perbedaan. Hidup saling melengkapi sudah menjadi kodrat. Terimalah hidup apa adanya.
Bersambung…..
Sebuah perenungan Sore, Katapang, Kalbar. @Pit 26/11/12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar