Minggu, 04 Maret 2012

Makna Hidup dan Perjalanan Hidupku

http://bruderfic.or.id/h-285/cacat-fisik-bukan-halangan-bagi-saya-untuk-hidup-normal.html

CACAT FISIK BUKAN HALANGAN BAGI SAYA UNTUK HIDUP NORMAL



Kehidupan merupakan anugrah terindah yang diberikan Tuhan kepada setiap insan. Manusia dilahirkan, menghirup udara, tumbuh dan berkembang, mengalami hal-hal normal dalam hidup, merasakan bahagia, sedih, sakit, sehat, adalah kumpulan betapa hidup ini sebuah dinamika yang normal. Dan, saya merasakan hal-hal yang luar biasa demikian. Tuhan telah menganugerahkan kepada saya kesempatan untuk lahir kedunia ini dan merasakan dinamika itu. Saya berkenan melewati masa-masa indah waktu kecil dan kesedihan dalam tekanan mental yang luar biasa. Salah satu sisi kehidupan, saya merasa bersyukur atas apa yang saya miliki namun disisi lain, hidup terkadang bagi saya adalah neraka dan saya menyalahkan Tuhan kenapa menanggung cacat fisik seperti ini.

Saya yang sejak lahir diciptakan dengan keadaan fisik yang tidak sempurna, tangan dan kaki kanan saya sedikit lumpuh dan tidak normal seperti layaknya orang lain yang dapat menggunakan semuanya dengan baik. Ketidaksempurnaan fisik saya banyak berpengaruh pada aktivitas saya sehari-hari. Jujur saya katakan keadaan fisik saya seperti ini tidak saya kehendaki, didalam hati dan perasaan, saya merasa marah, sangat tidak terima atas kenyataan yang ada, kehidupan saya berada pada posisi yang serba salah. Kadang kala saya depresi atas keberadaan diri ini, pergaulan saya tidak seluwes orang-orang lain. Sahabat-sahabat saya bisa bermain dengan leluasa, berlari, berenang, memanjat, belajar dengan mudah secara fisik sementara saya tidak bisa dan dibatasi oleh keadaan cacat fisik tadi. Sungguh ini sebuah neraka nyata dalam hidup.

Disetiap pergaulan, pikiran negatif saya selalu muncul, dia semacam tembok pembatas yang sangat tinggi dan sulit untuk dilewati. Diri saya berada dalam gejolak yang tidak bahagia, menerima kenyataan dalam lingkungan nasib tidak beruntung, pasrah dan mudah menyerah, bahkan sempat mengatakan Tuhan tidak adil terhadap saya. Setiap kali bergaul dengan teman-teman seusia saya dalam keseharian, selalu saja saya merasa minder, diri saya adalah yang terburuk, sangat berbeda dan tidak dapat berbuat seperti mereka.

Citra diri saya waktu itu memang demikian dan saya belum bisa menerima kenyataan ini secara normal. Saya merasa diri saya tidak dapat berbuat dan mengerjakan sesuatu seperti sahabat-sahabat saya yang lain. Mereka memiliki kesempurnaan fisik dan bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan sementara saya tidak. Keadaan seperti inilah menjadi bumerang yang membuat saya merasa terkucilkan, rendah diri, tidak sempurna dan sangat berbeda dibandingkan dengan orang lain. Saya menutup diri dan minder, iri terhadap teman-teman saya. Bahkan perasan mental itu masih ada dan selalu menyerang saya sampai saya menginjak SLTP.

Sejak masuk SLTP, saya pindah dari desa kecil dimana kedua orang tua saya tinggal, saya meneruskan pendidikan kekota kabupaten. Pada awal masa ini saya merasakan dunia yang jauh berbeda, tekanan terasa sangat kuat, hidup sepertinya tidak semakin baik. Saya ibarat berjalan sendiri, melakukan banyak aktivitas dan mengurus diri sendiri, bulan-bulan awal terasa begitu berat dan saya semakin terpuruk kedalam tekanan mental dan keminderan akut. Tuhan sepertinya memang tidak menggendong saya dalam setiap keterbatasan, saya berjalan sendiri dalam penderitaan ini, suara Tuhan tidak menggaung dalam benak saya dan itu saya biarkan saja. Masa itu Tuhan saya pandang sebagai pencipta yang tidak menghendaki saya lahir. Itulah cap-cap yang saya patri untuk membenarkan apa yang saya pikirkan karena keterbatasan tadi.

Suara Kehidupan yang Memberi Makna

Saya menyadari apa yang dikatakan orang-orang di sekitar saya yang terus mendorong dan memberikan semangat, mereka membuka ruang dan tidak membatasi apapun dari saya. Akhirnya, saya berani membuka diri dan hidup layaknya orang lain. Ini sebuah anugerah indah bagi hidup saya.
Saya terus memperbaiki diri dan perlahan-lahan membuang jauh pikiran negatif yang selama ini melekat dalam diri saya. Dan, ternyata, semuanya terpusat pada pikiran. Alam semesta memberikan energinya tergantung pada apa yang manusia pikirkan. Ketika saya berfikir negatif alam semesta juga memberikan hal-hal negatif dan ketika saya menerima kehidupan secara positif, alam semesta juga berpihak kepada saya. Ini sebuah rahasia kehidupan dan saya bersyukur mengalami kedua hal itu.

Ketika saya merasa minder, saya membatasi diri dari dunia luar, kehidupan berada dalam tekanan dan saya adalah sosok yang "nggak banget". Saya merasa sekali ternyata berpikir demikian hanyalah perasaan kita sendiri dan membuat kita semakin tidak berdaya. Tidak berdaya yang saya maksudkan adalah bahwa apabila saya terus-terusan menggulung diri dalam lingkaran negatif maka saya tidak akan maju.
Perasaan minder, takut, malu dan malas merupakan suatu pikiran yang buruk atau prasangka buruk yang sebenarnya diri kita sendiri membuat dalam artian berpikiran demikian negatifnya pada diri sendiri. Padahal kita di dalam hidup masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan, namun yang perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana untuk menyikapi hal tersebut secara positif.

Didalam hidup seringkali kita tidak mengenal dan sengaja untuk tidak mau memahami sekaligus mempelajari makna dari hidup itu. Bahkan tidak mengenakan adalah ada beberapa orang yang tidak menerima nafas kehidupan yang diberikan-Nya. Tidak sedikit orang cenderung tidak menerima pemberian yang maha kuasa dalam hal ini menyangkal diri dengan tidak mau menerima keadaan dalam dirinya dengan tidak mengakui kekurangan yang ada di dalam dirinya berupa keadaan fisik yang tidak sempurna seperti orang yang lahir lainnya. Padahal suatu sumber kehidupan itu merupakan salah satu modal utama untuk berusaha bagaimana kita seharusnya untuk dapat berjuang dan mampu mengalahkan kekurangan yang ada dengan cara menggunakan akal dan pikiran kita.

Setiap orang yang lahir ke dunia ini pada hakikatnya sama prosesnya, akan tetapi dalam setiap orang pasti ada ada perbedaan baik fisik dan anugrah didalam kehidupan. Pada kenyataan banyak orang yang tidak menerima pemberian dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak orang yang lahir kedunia tidak mau menerima kenyataan yang ada, bahkan tidak sedikit yang mengambil jalan pintas karena tidak menerima arti kehidupan. Misalnya saja bahkan orang yang sempurna fisiknya pun tidak berarti ia menerima sepenuhnya makna dan arti kehidupan.
Kehidupan pada hakekatnya adalah patut dan layak untuk disyukuri sebagai Anugrah yang tiada tara. Anugrah yang tiada tara tersebut adalah tidak mungkin dapat kita balas terhadap Tuhan, terkecuali dengan kita bagaimana untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain didalam kehidupan kita. sebagai mahkluk yang dikatakan sempurna dari mahkluk-mahkluk lain sudah selayaknya lah kita mengucap Syukur dengan memaknai hidup ini untuk berkarya dengan menggunakan akal dan pikiran secara positif.

Banyak orang-orang hebat, cerdas, dan terkenal karena salah satunya oleh kekurangan fisik dalam hal ini mereka cacat, apapun wujudnya tetapi mereka miliki kemauan dan berusaha bagaimana mengatasi kekurangan tersebut dengan berkarya. Berusaha dengan sekuat tenaga memutarkan akal dan pikiran adalah salah satu wujud nyata untuk memaknai kehidupan. Makna dan arti kehidupan pada hakikatnya memiliki fungsi dan tujuan yang sama yaitu bagaimana kita, anda dan saya untuk dapat memaknai kehidupan sebagai tujuan untuk dapat memperoleh, menciptakan, dan berbuat nyata dengan berkarya sesuai dengan keinginan sesuai apa yang kita inginkan, kuncinya tinggal bagaimana kita dapat berusaha dan terus menerus menghilangkan perasaan minder atau tidak Percaya Diri yang ada dalam diri kita.

Setelah saya menyadari semuanya itu saya berani mencoba untuk menyatu dengan teman-teman lain untuk dapat bersosialisasi, bersahabat, dan akrab dengan orang disekitar saya. Pada dasarnya orang-orang disekitar saya sudah mengetahui dan menerima keadaan saya. Sebelumnya saya berpikir dan merasakan bahwa hidupku tidak berarti sama sekali bagi orang tua dan orang lain. Motivasi dan semangat dari orang-orang disekitar kehidupanku terlebih orang tua, membuat saya semakin kuat, tegar dan termotivasi dengan keadaan saya untuk bagaimana berani membuka diri dan mencoba menerima keadaan yang dimiliki sebagai salah satu anugrah didalam kehidupan ini.

Kehidupan kita yang serba berkekurangan seharusnya jangan dijadikan sebagai sebagai suatu hambatan untuk terus berkembang, bergaul dan akrab dengan dengan sesama serta menjalin persahabatan dengan siapapun tanpa terkecuali karena itu semua sebagai pelajaran hidup. Disitu kita akan menemukan makna kehidupan yang sebenarnya. Dari waktu kewaktu diri saya tidak lagi merasakan bahwa kekurangan yang kita miliki sebagai penghambat akan tetapi menjadikannya sebagai salah satu acuan bagi kita untuk maju seolah kita tidak merasa kurang satu apapun. Pada kurun waktu hampir sepuluh tahun hidup saya penuh dengan perasaan yang khawatir dan tidak menerima kenyataan lama kelamaan berbalik arah yakni dengan berpikiran positif dan merasa terpacu semangat untuk dapat berkarya seperi orang lain.

Berusaha bangkit dari keterpurukan merupakan salah satu langkah yang harus kita ambil karena kehidupan kita hanya sekali. Kita, anda dan saya tentu ingin merasakan suatu anugrah yang luar biasa dari kehidupan yang diberikan oleh-Nya. Saya merasakan sekali bahwa keadaan fisik atau apapun yang menjadi halangan, jangan dijadikan sebagai salah satu hambatan. Justru sekarang saya merasakan hidup lebih berarti dengan keadaan seperti pada ini, keberanian dan kepercayaan diri dan berani untuk berusaha seperti teman teman-teman lainnya adalah salah satu modal keberhasilan bangkit dari keadaan. Ada salah satu pedoman yang menjadikan semangat saya terpacu, yakni perkataan dari Bapak saya yang menyatakan: "Keadaan fisik mu memang tidak sempurna seperti orang yang lainnya, akan tetapi kamu diberikan akal dan pikiran yang sama oleh Tuhan gunakan itu sebagai pelengkap kekurangan yang kamu miliki".

Sungguh sangat luar biasa ungkapan dari kata-kata itu, dari pernyataan itu saya semakin percaya bahwa kekuranan bukanlah sebagai salah kendala untuk berjuang dalam hidup, akan tetapi sebagai modal kita semakin kuat dan dapat berbuat sesuatu dan berkarya dalam sisa-sisa hidup kita. Saya merasa sangat berhutang budi terhadap orang tua dan orang-orang disekitar ku khususnya teman-teman, karena mereka hidup saya dapat merasa sama seperti mereka semua. Saya merasa didalam hidup ini memang tidak ada yang tidak mungkin, seperti apa yang di katakan oleh Tuhan. Akan tetapi itu tergantung pada diri kita masing-masing pula bagaimana untuk melaksanakan itu semua.

Pengembangan diri kearah yang lebih baik dan berusaha untuk membuka diri adalah kunci kita dan anda semua untuk berkembang dan maju menuju masa depan. Hidup kita yang diberikan oleh Tuhan hanya sekali saja, berbuatlah sesuatu yang baik terhadap semua, temukan makna hidup didalam diri kita. Keterbatasan pada diri janganlah dijadikan sebagai suatu alasan untuk tidak bertindak, akan tetapi jadikan keterbatasan itu sebagai langkah untuk memacu semangat dan motivasi diri kearah positif. Hidup dalam keadaan terbatasan memang suatu tidak mengenakan, akan tetapi kita ditantang berani atau tidak untuk mengalahkan perasaan kita yang terkadang cenderung menutup diri.

Didalam kehidupan sehari-hari kita dan mahkluk ciptaan yang lainnya memang tidak lepas dari dukungan orang lain, namun kita jangan terlalu bergantung. Bukankah didalam diri kita masing-masing memiliki akal dan pikiran yang sebenarnya merupakan bahan dan sumber kreasi kita untuk melangkah dan berjuang kearah yang kita mau dalam artian dengan tindakan dan pikiran positif pula.

Pada akhirnya didalam memaknai kehidupan ada salah satu kunci utama yang harus dilaksanakan yaitu adalah bagaimana kita untuk terus menerus berpikir positif. Berpikir positif adalah salah satu sumber utama bagi kita, anda dan saya untuk dapat serta mampu menakluk rasa kekurangan-kekurangan yang kita miliki. Dengan berpikiran poitif maka kita akan mampu membuat semuanya berjalan dengan baik apapun bentuknya. Sudah selayaknya kita mensyukuri berbagai anugrah terindah dari Tuhan. Sampai saat ini aku sangat mensyukuri arti hidup dan kasih, persahabatan dari sesama dan berkarya. Kasih Berusaha dengan sekuat tenaga dibarengi oleh semangat tinggi adalah salah satu tekad kuat untuk mencoba maju dari segala sesuatu yang ada dalam kehidupan, pasti bisa dilakukan. Bukankah kekurangan itu adalah salah satu modal besar bagi kita untuk dapat berkarya.

Petrus Kanisius/ Pit ; Bekerja di Yayasan Palung (GPOCP); sebuah lembaga konservasi orangutan dan habitatnya.
Aktif di koor paduan suara AMBA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar